Tampilkan postingan dengan label Liverpool FC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liverpool FC. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Juli 2014

Daftar Bursa Transfer EPL 2014-2015

AYO GABUNG BERSAMA KAMI DI
LIVERPOOL FC #YNWA
AMMIAMMAD96
 


Arsenal

Masuk: Alexis Sanchez (dari Barcelona, harga 30 juta pounds), Mathieu Debuchy (dari Newcastle, harga 10 juta pounds).

Keluar: Bacary Sagna (Manchester City, bebas transfer), Lukasz Fabianski (Swansea, bebas transfer).

Aston Villa

Masuk: Philippe Senderos (dari Fulham, bebas transfer), Joe Cole (dari West Ham, bebas transfer), Tom Leggett (dari Southampton, nilai transfer (nt) dirahasiakan), Isaac Nehemie (dari Southampton, nt dirahasiakan) Kieran Richardson (dari Fulham, dirahasiakan).

Keluar: Marc Albrighton (Leicester City, bebas transfer), Jordan Bowery (Rotherham, dirahasiakan), Nicklas Helenius (Aalborg, pinjaman), Yacouba Sylla (Kayseri Erciyesspor, pinjaman).

Burnley

Masuk: Lukas Jutkiewicz (dari Middlesbrough, harga 2.5 juta pounds), Michael Kightly (dari Stoke, dirahasiakan), Marvin Sordell (dari Bolton, bebas transfer), Matt Gilks (dari Blackpool, bebas transfer), Matt Taylor (dari West Ham, bebas transfer), Steven Reid (dari West Brom, bebas transfer).

Keluar: Chirs Baird (West Brom, bebas transfer), Junior Stanislas (Bournemouth, bebas transfer), David Edgar (Birmingham, bebas transfer).

Chelsea

Masuk: Cesc Fabregas (dari Barcelona, harga 30 juta pounds ), Diego Costa (dari Atletico Madrid, harga 32 juta pounds), Mario Pasalic (Hadjuk Split, dirahasiakan), Felipe Luis (Atletico Madrid, 20 Juta pounds)

Keluar: David Luiz (Paris Saint-Germain, harga 50 juta pounds), Ashley Cole (Roma, bebas transfer), Wallace (Vitesse Arnhem, pinjaman), Bertrand Traore (Vitesse Arnhem, pinjaman) Thorgan Hazard (Borussia Mönchengladbach, pinjaman), Demba Ba (Besiktas, 8 juta pounds)

Crystal palace

Masuk: Chris Kettings (dari Blackpool, bebas transfer).

Keluar: Jonathan Parr (Ipswich, bebas transfer), Dean Moxey (Bolton, bebas transfer), Aaron Wilbraham (Bristol City, bebas transfer), Kagisho Dikgacoi (Cardiff, bebas transfer), Alex Wynter (Portsmouth, pinjam), Kwesi Appiah (Cambridge, pinjaman).

Everton

Masuk: Gareth Barry (dari Manchester City, bebas transfer).

Keluar: Apostolos Vellios, Mason Springthorpe, Magaye Gueye (semua dirilis).

Hull City

Masuk: Robert Snodgrass (dari Norwich, harga 8 juta pounds), Jake Livermore (dari Tottenham, harga 6 juta pounds), Tom Ince (dari Blackpool, bebas transfer).

Keluar: Matty Fryatt (Nottingham Forest, bebas transfer), Cameron Stewart (Ipswich, bebas transfer), Conor Henderson (Crawley, bebas transfer).

Leicester City

Masuk: Matthew Upson (dari Brighton, bebas transfer), Marc Albrighton (dari Aston Villa, bebas transfer), Ben Hamer (dari Charlton, bebas transfer), Jack Barmby (dari Manchester United, bebas transfer).

Keluar: Lloyd Dyer (Watford, bebas transfer), Neil Danns (Bolton, bebas transfer), Zak Whitbread (Derby, bebas transfer), Paul Gallagher (Preston, pinjaman), Ben Nugent (Yeovil, pinjaman).

Liverpool

Masuk: Adam Lallana (dari Southampton, harga 23 juta pounds), Lazar Markovic (dari Benfica, harga 20 juta pounds), Emre Can (dari Bayer Leverkusen, harga 9.8 juta pounds), Rickie Lambert (Southampton, harga 4 juta pounds)

Keluar: Luis Suarez (Barcelona, harga 75 juta pounds), Luis Alberto (Malaga, pinjaman)

Manchester City

Masuk: Fernando (dari Porto, harga 12 juta pounds), Bacary Sagna (dari Arsenal, bebas transfer), Willy Caballero (Malaga, harga 6 juta pounds).

Keluar: Costel Pantilimon (Sunderland, bebas transfer), Joleon Lescott (West Brom, bebas transfer) Gareth Barry (Everton, bebas transfer).

Manchester United

Masuk: Luke Shaw (dari Southampton, harga 31,5 juta pounds), Ander Herrera (dari Athletic Bilbao, harga 29 juta pounds), Vanja Milinkovic (FK Vojvodina, dirahasiakan).

Keluar: Alexander Buttner (Dinamo Moscow, harga 5.6 juta pounds), Nemanja Vidic (Inter Milan, bebas transfer), Federico Macheda (Cardiff City, bebas transfer), Jack Barmby (Leicester, bebas transfer), Ryan Giggs (pensiun), Rio Ferninand (Manchester United, harga 8 juta pounds).

Newcastle United

Masuk: Remy Cabella (dari Montpellier, harga 12 juta pounds), Emmanuel Riviere (dari Monaco, harga 6 juta pounds), Siem de Jong (dari Ajax, harga 6 juta pounds), Daryl Janmaat (dari Feyenoord, harga 5 juta pounds), Ayoze Perez (dari Tenerife, harga 1.5 juta pounds), Jack Colback (Sunderland, bebas transfer).

Keluar: Mathieu Debuchy (Arsenal, harga 10 juta pounds), James Tavernier (Wigan, dirahasiakan), Dan Gosling (Bournemouth, bebas transfer), Conor Newton (Rotherham, bebas transfer).

Queens Park Rangers

Masuk: Rio Ferninand (Manchester United, harga 8 juta pounds).

Keluar: Tom Hitchcock (Mk Dons, bebas transfer), Aaron Hughes (Brighton, bebas transfer), Yossi Benayoun (Maccabi Haifa, dirahasiakan).

Southampton

Masuk: Dusan Tadic (dari Twente, harga 10.3 juta pounds), Graziano Pelle (dari Feyenoord, harga 8 juta pounds).

Keluar: Luke Shaw (Manchester United, harga 31,5 juta pounds), Rickie Lambert (Liverpool, harga 4 pounds), Adam Lallana (Liverpool, harga 23 juta pounds) Lee Barnard (Southend, bebas transfer), Danny Fox (Nottingham Forest, bebas transfer), Andy Robinson (Bolton, bebas transfer), Tom Leggett (Aston Villa, dirahasiakan), Isaac Nehemie (Aston Villa, dirahasiakan).

Stoke City

Masuk: Mame Biram Diouf (dari Hannover, bebas transfer), Dionatan Teixeira (dari Banska Bystrica, dirahasiakan), Phil Bardsley (dari Sunderland, bebas transfer), Steve Sidwell (dari Fulham, bebas transfer)

Keluar: Michael Kightly (Burnley, tak disebutkan).

Sunderland

Masuk: Billy Jones (dari West Brom, bebas transfer), Jordi Gomez (dari Wigan, bebas transfer), Costel Pantilimon (dari Manchester City, bebas transfer).

Keluar: Jack Colback (Newcastle, bebas transfer), Craig Gardner (West Brom, bebas transfer), Phil Bardsley (Stoke, bebas transfer), Billy Knott (Bradford, bebas transfer) Keiren Westwood (Sheffield Wednesday, bebas transfer), Oscar Ustari (Newell, bebas transfer), John Egan (Gillingham, bebas transfer).

Swansea City

Masuk: Marvin Emnes (dari Middlesbrough, harga 1.5 juta pounds), Bafetimbi Gomis (dari Lyon, bebas transfer), Lukasz Fabianski (dari Arsenal, bebas transfer), Stephen Kingsley (Falkirk, dirahasiakan).

Keluar: Daniel Alfei (Northampton, pinjaman), Michu (Napoli, pinjaman).

Tottenham Hotspurs

Masuk: Tidak Ada.

Keluar: Jake Livermore (Hull, harga 6 juta pounds), Heurelho Gomes (Watford, bebas transfer), Alex Pritchard (Brentford, pinjaman).

West Bromwich Albion

Masuk: Craig Gardner (dari Sunderland, bebas transfer), Joleon Lescott (dari Manchester City, bebas transfer), Chris Baird (dari Burnley, bebas transfer), Sebastien Pocognoli (Hannover 96, dirahasiakan).

Keluar: Liam Ridgewell (Portland Timbers, bebas transfer), Billy Jones (Sunderland, bebas transfer), Steven Reid (Burnley, bebas transfer), Cameron Gayle (Shrewsbury, bebas transfer).

West Ham United

Masuk: Enner Valencia (dari Pachuca, harga 12 juta pounds), Cheikhou Kouyate (dari Anderlecht, haraga 7 juta pounds), Mauro Zarate (dari Velez Sarsfield, dirahasiakan), Aaron Cresswell (dari Ipswich, dirahasiakan), Diego Poyet (dari Charlton, dirahasiakan).

Keluar: Joe Cole (Aston Villa, bebas transfer), Matt Taylor (Burnley, bebas transfer)

#YNWA

Sabtu, 21 Desember 2013

BIOGRAFI Martin Kelly

Nama Lengkap : Martin Kelly
Tempat Lahir : Whiston, Inggris
Tanggal Lahir : 27 April 1990
Kebangsaan : Inggris
Posisi : Bek
Bermain di Klub : Liverpool

Martin Ronald Kelly atau yang lebih sering dikenal Martin Kelly adalah seorang pemain sepak bola profesional yang berasal dari Inggris. Ia lahir pada tanggal 27 April 1990 di Whiston, Merseyside, Inggris. Saat ini ia merupakan salah satu punggawa dari klub Liverpool dan bermain pada bek. Selain itu ia juga termasuk pemain dalam skuad timnas Inggris U21.

Karir Junior:
1997–2007 : Liverpool

Karir Senior

2007–xxxx : Liverpool

Karir Timnas:

2009 : England U19
2009 : England U20
2010–xxxx : England U21

Daftar Pesepakbola Muslim (List of Muslim Footballer)


As salamu 'alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Albania
- Altin Lala (Bayern München II)
- Lorik Cana (Lazio)
- Samir Ujkani (Palermo)

Algeria
- Abdelkader Ghezzal (Levante - on loan from Bari)
- Chadli Amri (Kaiserslautern)
- Djamel Mesbah (AC Milan)
- Hassan Yebda (Granada)
- Hamer Bouazza (Racing de Santander)
- Mehdi Abeid (Newcastle)
- Mehdi Lacen (Getafe)
- Mehdi Mostefa (Ajaccio)
- Rafik Halliche (Académica)
- Ryad Boudebouz (Sochaux)
- Sofiane Feghouli (Valencia)


Belgium
- Adnan Januzaj (Manchester United)
- Marouane Fellaini (Everton)
- Mousa Dembele (Tottenham)
- Yassine El Ghanassy (WBA - on loan from K.A.A Gent)

Bosnia-Herzegovina
- Adnan Zahirović (Spartak Nalchik)
- Asmir Avdukić (Borac Banja Luka)
- Asmir Begović (Stoke City)
- Edin Džeko (Manchester City)
- Elvir Rahimić (CSKA Moscow)
- Emir Spahić (Sevilla)
- Haris Medunjanin (Gaziantepspor)
- Ibrahim Šehić (Mersin İdmanyurdu)
- Mehmed Alispahić (Dinamo Zagreb)
- Mensur Mujdža (Freiburg)
- Miralem Pjanić (AS Roma)
- Muhamed Bešić (Ferencváros)
- Said Husejinović (FK Sarajevo)
- Sejad Salihović (Hoffenheim)
- Senad Lulić (Lazio)
- Vedad Ibišević (Vfb Stuttgart)
- Zlatan Muslimović (Guizhou Renhe)
- Zvjezdan Misimović (Dynamo Moscow)
- Hasan Salihamidžić (free agent - terakhir bermain di VfL Wolfsburg)
- Zlatan Bajramović (retired)

Brazil
- Fred (Fluminense)*

Cameroon
- Mohammadou Idrissou (Kaiserslautern)

Côte d'Ivoire
- Abdoulaye Méïté (Dijon)
- Abdul Kader Keita (Al-Ittihad)
- Abdul Razak (Charlton)
- Arouna Koné (Wigan)
- Boubacar Barry (Lokeren)
- Bakari Koné (Qatar SC)
- Ibrahim Sissoko (Panathinaikos)
- Kolo Touré (Manchester City)
- Salomon Kalou (Lille)
- Seydou Doumbia (CSKA Moscow)
- Steve Gohouri (Maccabi Tel Aviv)
- Yaya Touré (Manchester City)

Croatia
- Darijo Srna (Shakhtar Donetsk)

DR Congo
- Youssouf Mulumbu (West Brom)

Egypt
- Ahmed Elmohamady (Hull City)
- Ahmed Hegazy (Fiorentina)
- Amr Zaki (Elazığspor)
- Emad Moteab (Al Ahly)
- Hossam Ghaly (Al Ahly)
- Mohamed Aboutrika (Al Ahly)
- Mohamed Salah (FC Basel)
- Mohamed Shawky (Al Naft)
- Mohamed Zidan (Bani Yas)

England
- Leon Osman (Everton)
- Nathan Ellington (Ipswich)

Finland
- Shefki Kuqi (Hibernian)

France
- Abdoulay Konko (Lazio)
- Abou Diaby (Arsenal)
- Adil Rami (Valencia)
- Alou Diarra (West Ham)
- Aly Cissokho (Valencia)
- Bacary Sagna (Arsenal)
- David Trezeguet (River Plate)
- Eric Abidal (Barcelona)
- Franck Ribery (Bayern Munchen)
- Hatem Ben Arfa (Newcastle)
- Ishak Belfodil (Parma)**
- Julien Faubert (Elazığspor)
- Karim Benzema (Real Madrid)
- Lassana Diarra (Anzhi Makhachkala)
- Mamadou Sakho (PSG)
- Mouhamadou Dabo (Lyon)
- Moussa Sissoko (Toulouse)
- Nicolas Anelka (Shanghai Shenhua)
- Samir Nasri (Manchester City)
- Thiery Henry (New York Red Bulls)*
- Younès Kaboul (Tottenham)
- Pascal Cygan (retired)
- Zinedine Zidane (retired)*

Ghana
- Ahmed Barusso (Novara - on loan from Genoa)
- Amidu Salifu (Catania - on loan from Fiorentina)
- André Ayew (Marseille)
- Jordan Ayew (Marseille)
- Kwadwo Asamoah (Juventus)
- Masahudu Alhassan (Genoa)
- Mubarak Wakaso (Espanyol)
- Sulley Muntari (AC Milan)

Germany
- Abu Bakarr Kargbo (Hertha)**
- Ashkan Dejagah (Fulham)
- Emre Can (Bayern München)**
- Ilkay Gundogan (Dortmund)
- Karim Bellarabi (Leverkusen)**
- Malik Fathi (Kayserispor - on loan from Mainz)
- Mesut Özil (Real Madrid)
- Özkan Yildirim (Bremen)**
- Sami Khedira (Real Madrid)
- Serdar Tasci (Stuttgart)
- Shkodran Mustafi (Sampdoria)
- Yunus Malli (Mainz)**

Guinea
- Ibrahima Traoré (Stuttgart)
- Mamadou Bah (Stuttgart)

Korea Republic
- Lee Woon Jae (Chunnam Dragons)

Mali
- Frédéric Kanouté (Beijing Guoan)
- Mahamadou Diarra (Fulham)
- Mahamadou N'Diaye (Vitória de Guimarães)
- Mamady Sidibe (Stoke)
- Mohamed Sissoko (PSG)
- Oumar Sissoko (Ajaccio)
- Seydou Keita (Dalian Aerbin)

Morocco
- Abdelaziz Barrada (Getafe)
- Adel Taarabt (QPR)
- Adil Chihi (Köln)
- Houssine Kharja (Al-Araby)
- Imad Najah (RKC Waalwijk)**
- Ismaïl Aissati (Antalyaspor)
- Karim El Ahmadi (Aston Villa)
- Khalid Sinouh (NEC)
- Marouane Chamakh (Arsenal)
- Mehdi Benatia (Udinese)
- Moestafa El Kabir (Cagliari - on loan from Mjällby AIF)
- Mohamed Amsif (Augsburg)
- Mounir El Hamdaoui (Fiorentina)
- Nabil El Zhar (Levante)
- Oussama Assaidi (Liverpool)
- Yacine Qasmi (Getafe CF)
- Younes Belhanda (Montpellier)
- Youssef El-Arabi (Granada)
- Zakaria Labyad (Sporting Clube de Portugal)
- Yacine Abdessadki (free agent)

Netherland
- Adil Auassar (De Graafschap)
- Ibrahim Afellay (Schalke 04 - on loan from Barcelona)
- Karim Rekik (Portsmouth - on loan from Manchester City)**
- Khalid Boulahrouz (Sporting Clube de Portugal)
- Nacer Barazite (Monaco)
- Otman Bakkal (Dynamo Moscow)
- Robin Van Persie (Manchester United)*

Nigeria
- Ahmed Musa (CSKA Moscow)
- Rabiu Ibrahim (Celtic)
- Taye Taiwo (Dynamo Kyiv - on loan from AC Milan)
- Yakubu Aiyegbeni (Guangzhou R&F)

Norway
- Abdisalam Ibrahim (Strømsgodset - on loan from Manchester City)**
- Mohammed Abdellaoue (Hannover)
- Tarik Elyounoussi (Rosenborg)

Oman
- Ali Al Habsi (Wigan)

Russia
- Diniyar Bilyaletdinov (Spartak Moscow)
- Marat Izmailov (Sporting Clube de Portugal)

Scotland
- Islam Feruz (Chelsea)**

Senegal
- Abdoulaye Diagne-Faye (Hull City)
- Armand Traoré (QPR)
- Boukary Dramé (Chievo)
- Demba Ba (Newcastle)
- El Hadji Diouf (Leeds)
- Habib Beye (Doncaster Rovers)
- Ibrahima Sonko (Akhisar Belediyespor)
- Issiar Dia (Lekhwiya)
- Mamadou Niang (Al Sadd)
- Mohamed Diamé (West Ham)
- Moustapha Bayal Sall (Saint-Étienne)
- Papiss Demba Cissé (Newcastle)
- Salif Diao (Stoke)
- Souleymane Camara (Montpellier)
- Souleymane Diawara (Marseille)

Serbia
- Adem Ljajić (Fiorentina)
- Miralem Sulejmani (Ajax)

Slovenia
- Haris Vučkić (Newcastle)
- Samir Handanovic (Inter Milan)

Sweden
- Emir Bajrami (AS Monaco - on loan from Twente)
- Rami Shaaban (Hammarby)
- Walid Atta (Helsingborgs IF)
- Zlatan Ibrahimović (PSG)*

Switzerland
- Blerim Dzemaili (Napoli)
- Eren Derdiyok (Hoffenheim)
- Gokhan Inler (Napoli)
- Hakan Yakin (AC Bellinzona)
- Johan Djourou (Birmingham - on loan from Arsenal)
- Nassim Ben Khalifa (Grasshoppers)
- Valon Behrami (Napoli)
- Xherdan Shaqiri (Bayern München)

Tunisia
- Ammar Jemal (Ajaccio)
- Änis Ben-Hatira (Herhta)
- Karim Haggui (Hannover)
- Sami Allagui (Hertha)

Turkey
- Arda Turan (Atletico Madrid)
- Burak Yılmaz (Galatasaray)
- Emre Belözoğlu (Atlético Madrid)
- Erdal Akdari (Kayserispor)**
- Gökhan Gonul (Fenerbahce)
- Gökhan Töre (Rubin Kazan)
- Gökhan Zan (Galatasaray)
- Hamit Altıntop (Galatasaray)
- Halil Altıntop (Trabzonspor)
- Kerim Frei (Fulham)
- Mehmet Ekici (Bremen)
- Mehmet Topal (Fenerbahçe SK)
- Mevlüt Erdinç (Stade Rennais)
- Nuri Şahin (Liverpool - on loan from Real Madrid)
- Oğuzhan Özyakup (Beşiktaş)
- Ömer Toprak (Leverkusen)
- Semih Şentürk (Fenerbahçe)
- Servet Çetin (Eskişehirspor)
- Tolgay Arslan (Hamburg)**
- Tunay Torun (VfB Stuttgart)
- Tuncay Şanlı (Bursaspor)
- Umut Bulut (Galatasaray)
- Nihat Kahveci (retired)
- Onur Ayık (free agent)**
- Rüştü Reçber (retired)
- Hakan Şükür (retired)
- Yıldıray Baştürk (retired)

BIOGRAFI DANIEL AGGER


Lazy-load-image-gray


Daniel Munthe Agger (lahir di Hvidovre, Denmark, 12 Desember 1984; umur 27 tahun) adalah seorang pesepak bola profesional berkewarganegaraan Denmark yang saat ini bermain di Liga Inggris bersama Liverpool. Karier profesionalnya dimulai di Denmark bersama Brondby FC pada Juli 2004 dimana dia memenangkan "Liga Super Denmark".
Pada jendela transfer januari 2006, Agger menandatangani kontrak bersama Liverpool. Di Liverpool maupun di timnas Denmark, Agger bermain sebagai bek tengah. Dikenal sebagai pemain yang tangguh, baik dalam mengambil posisi, serta bertenaga dengan kelebihan di kaki kirinya. Agger diproyesikan sebagai pemain bertahan masa depan Liverpool.
Debut tim nasionalnya terjadi pada Juni 2005 saat partai persahabatan melawan Finlandia. Sedangkan gol pertamanya untuk tim nasional Denmark dicetak ke gawang Georgia pada laga kualifikasi Piala dunia 2006.
 


Dia adalah sosok tangguh di lini belakang The REDS Liverpool, ia menjadi sosok penting semenjak sepeninggal Hyppia dan mulai menurunnya performa Carragher. Ia dikenal memiliki sifat yang keras dan berani, tak hanya itu ia juga memiliki loyalitas yang tinggi bagi Liverpool. Daniel Agger bergabung dengan liverpool pada tahun 2006 setelah di beli dari klub Brondby IF.

Daniel Agger/Getty Images


Daniel Agger memiliki hoby menato tubuhnya, ia memiliki banyak tato di tubuhnya, yang terbaru adalah tato bertuliskan ' YNWA ' di jari tangannya yang merupakan seloga klub Liverpool ' You'll Never Walk Alone '. Tato tersebut merupakan tanda cinta dan loyalitas Agger terhadap klub dan kota yang telah membesarkan namanya. Karena di Liverpoollah karir Agger mulai menanjak sehingga masuk timnas dan kini ia menyandang sebagai kapten Timnas ' Dynamite ' Denmark.

BIOGRAFI KOLO TOURE

Kolo Toure

Kolo Toure


Nama Lengkap : Kolo Toure
Alias : No Alias
Profesi : -
Tempat Lahir : Buake, Pantai Gading
Tanggal Lahir : Kamis, 19 Maret 1981
Zodiac : Pisces
Warga Negara : Pantai Gading

No Relation
BIOGRAFI
Kolo Toure adalah pesepak bola profesional kelahiran Buake, Pantai Gading dan tercatat bermain dalam klub sepak bola Manchester City, sekaligus anggota skuad inti tim nasional Pantai Gading. Juga dikenal sebagai saudara tertua dari Yaya Toure (juga bermain di Manchester City) dan Ibrahim Toure, Kolo Toure memulai debut di Liga Premier pada Pebruari 2002 setelah diboyong klub Arsenal dari tim ASEC Mimosas dengan bandrol 150.000 poundsterling.

Paruh pertama debut musim di Liga Premier dilalui Toure dengan banyak menjadi pemain cadangan. Laga pertamanya berlangsung saat melawan Liverpool dalam gelaran FA Community Shield, Agustus 2002. Toure mencetak gol pertamanya saat bertanding melawan Chelsea di Stadion Stamford Bridge, meski kedudukan kemudian berakhir imbang 1-1.

Pada musim tersebut, Arsenal gagal meraih piala Premiership namun Kolo Toure membuat kemajuan yang sangat berarti dalam karirnya, terbukti dengan payung kontrak selama tujuh tahun yang bakal dilakoni bersama tim tersebut.

Karir internasional pemain tengah kelahiran 1981 ini dimulai saat terpilih bermain dalam tim nasional Pantai Gading pada 2002. Pertandingan pertamanya adalah laga melawan tim nasional Rwanda pada April 2000. Pada 2006, Toure turun penuh dalam setiap laga ketika Pantai Gading bertanding dalam gelaran African Cup of Nations di Mesir dan berhasil membawa timnas Pantai Gading menjadi runner-up kejuaraan tersebut.

Pada 11 Juni 2006, kesempatan pertama bagi pesepakbola bertinggi 183 cm ini datang untuk tampil dalam gelaran paling akbar sepak bola dunia, FIFA World Cup. Saat itu, Pantai Gading berhadapan dengan raksasa bola Argentina yang berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan tim yang terakhir disebut.

Riset dan analisis: Sony Anshar - Mochamad Nasrul Chotib
KARIR
  • ASEC Mimosas (1994-2002)
  • Arsenal (2002-2009)
  • Manchester City (2009-sekarang)
  • Tim Nasional Pantai Gading (2000-sekarang)

BIOGRAFI JOSE ENRIQUE

Liverpool

Nama Lengkap : Jose Enrique Sanchez Diaz
Tempat Lahir : Valencia, Spanyol
Tanggal Lahir : 23 Januari 1986 (27 Tahun)
                            Kebangsaan :
Jose EnriqueKlub : Liverpool
Posisi : -
No Punggung : 3
Tinggi : 0 cm
Jose Enrique Sanchez Diaz atau yang lebih sering dikenal Jose Enrique adalah seorang pemain sepak bola profesional yang berasal dari Spanyol. Ia lahir pada tanggal 23 Januari 1986 di Valencia, Spanyol. Saat ini ia merupakan salah satu punggawa dari klub Liverpool dan bermain pada posisi bek sayap. Selain itu ia juga termasuk pemain dalam skuad timnas Spanyol.

Karir Junior:
* Levante

Karir Senior:
2004–2005 : Levante B   
2005–2006 : Valencia   
2005–2006 → Celta Vigo (loan)   
2006–2007 : Villarreal   
2007–2011 : Newcastle United   
2011–Sekarang :    Liverpool

Karir timnas:
2001 : Spain U16   
2005 : Spain U20   
2006–2008 : Spain U21

Biografi Simon Mignolet





Simon Mignolet
Liverpool kini berbangga diri karena telah memiliki seorang penjaga gawang anyar yang handal, dia adalah Simon Mignolet. Pemain asal Belgia ini baru saja bergabung dengan Liverpool dari Sunderland dengan nilai transfer sebesar 9 Juta poundsterling. Kiprah perdana nya bersama The Reds di ajang Ujicoba antar klub membuat sang pelatih Brendan rodgers dan sejumlah pihak terkesima, ia menjadi kiper inti The Reds karena Reina dipinjamkan ke Napoli untuk sementara waktu. Mignolet sendiri memang bermain cukup bagus selama 2 musim terakhir ini bersama Sunderland, dan bagi anda para penggemar Livepool, inilah profil lengkap Simon Mignolet.
Nama Lengkap : Simon Mignolet
Nama Akrab : Mignolet
Tanggal Lahir : 6 March 1988
Tempat Lahir : Sint-Truiden, Belgia
Tinggi Badan : 1.93 M
Nomor Punggung : 22
Kebangsaan : Belgia
Klub Saat ini : Liverpool FC
Posisi bermain : Penjaga gawang
Data, Fakta dan Perjalanan Karir Simon Mignolet :
- Simon Mignolet menjadi salah satu pemain Belgia yang sukses menjalani karir di Liga Primer Inggris sejak performa apik yang ia tunjukkan bersama Sunderland dan Liverpool belakangan ini. Selain mignolet, banyak pemain belgia yang berjaya di Inggris seperti Hazard dan Lukaku.
- Sejak tahun 2006, Simon Mignolet telah menggeluti karir profesionalnya sebagai pemain sepak bola, dan pertama kali ia membela klub kota kelahiran nya yaitu Sint-Truiden, dan kemudian hijrah ke inggris dengan bergabung bersama Sunderlang, dan di tahun 2013 ia ditebus oleh Liverpool dengan Nilai 9 Juta pounds dan kini resmi menjadi kiper inti The Reds menggantikan Reina yang tengah dipinjamkan ke Napoli.
- Mignolet sendiri sudah bergabung dengan Timnas Belgia sejak tahun 2003, secara beruntun ikut serta di Timnas Belgia U16, U17, U18, U19, U20, U21 dan ditahun 2011 ia baru resmi bergabung dengan timnas senior Belgia.

Biografi Brad Jones



Biografi Brad Jones
Nama Lengkap : Brad Jones
Nama Panggilan : Jones
Squad Nomor 1
Posisi : Kiper
Tinggi 1.91m
Berat 76 kg
Tanggal lahir : 19 Mar 1982
Lahir Di kota : Armadale, Western Australia
Negara kelahiran : Australia
                                                     Kewarganegaraan Australia


Seorang kiper sangat di nilai dengan beberapa tahun pengalaman Barclays Premier League, Jones menyediakan back-up untuk Pepe Reina.

Australia internasional menghabiskan sebagian besar karir bibit nya sebagai pemain pengganti untuk stopper mantan Middlesbrough Mark Schwarzer sebelum berjuang keluar dengan Ross Turnbull untuk menjadi pilihan pertama di Riverside pada awal musim 2008-09.

Cedera akan menghambat waktu sebagai Boro 'No.1 karena ia melewatkan potongan dari kampanye degradasi dilupakan serta sebagai awal dari tawaran klub untuk bangkit kembali dari Championship.
Namun, dia pulih pada waktunya untuk membuat apa yang akan terbukti menjadi terakhir 24 penampilan dan mendapatkan tempat di Australia skuad Piala Dunia. Dia kemudian akan menyerahkan tempatnya karena keadaan pribadi.

Setelah tiba di Utara-Timur dari kota asal klub Kota Bayswater SC kembali pada bulan Juli 1998, Jones segera membuktikan dirinya sebagai bintang kiper masa depan.

Remaja Aussie menandatangani kontrak profesional pertamanya setahun kemudian dan melanjutkan untuk menjadi salah satu-out performer berdiri di jalankan Middlesbrough tahun 2000 Youth FA Cup semi-final.
Namun, dengan tegas Schwarzer diposisikan sebagai Boro's No.1, Jones menemukan kesempatannya terbatas. Pinjaman mantra dengan Shelbourne, Stockport, Rotherham dan Blackpool diikuti sebelum dia menjadi fixture biasa di bangku di musim 2003-04 karena tidak adanya back-up 'kiper Carlo Nash karena cedera.

Ia selama ini kampanye bahwa dia membuat debut penuh untuk Boro 'di Piala FA 2-0 menang atas Notts County. Dia kemudian akan mengambil medali pemenang Piala Liga 'juga, setelah nama sebagai pengganti yang tidak terpakai dalam kemenangan 2-1 atas Bolton di final.

Musim 2005-06 akan sekali lagi memberikan dia dengan beberapa saat di pusat perhatian, terutama dalam menjalankan Middlesbrough ke final Piala UEFA, saat dia ditugasi untuk Schwarzer dalam kemenangan semifinal kenangan atas Steaua Bucharest.

Hal ini menyebabkan lain bergerak pinjaman dan mantra 15-permainan dengan Sheffield Wednesday sebelum ia meraih memulai pertamanya untuk Australia dalam kekalahan 2-1 untuk Uruguay pada tanggal 2 Juni 2007.
Mark Schwarzer bergerak ke Fulham pada musim panas tahun 2008 membuka pintu untuk kesempatan pertama tim yang lebih dan, meskipun menderita beberapa kemunduran, ia terkesan cukup untuk mendapatkan pindah ke Liverpool pada bulan Agustus 2010.

Debut Reds datang di Anfield sebulan kemudian pada tanggal 22 September - meskipun itu adalah salah satu untuk melupakan sebagai klub tergelincir ke kekalahan hukuman memalukan ke divisi bawah Northampton Town di Piala Liga.

Jones bergabung dengan Derby County pada pinjaman sampai akhir musim pada bulan Maret 2011

Senin, 16 Desember 2013

100 Nama Pemain Liverpool Yang Menjadi Legenda


1 Kenny Dalglish 1977-1991 Forward 172 Scotland
2 Steven Gerrard 1998- Midfield 64 England
3 Ian Rush 1980-1996 Forward 346 Wales
4 Robbie Fowler 1993-2007 Forward 177 England
5 John Barnes 1987-1997 Winger 110 England
6 Billy Liddell 1938-1960 Winger 229 Scotland
7 Jamie Carragher 1996- Defender 4 England
8 Kevin Keegan 1971-1977 Forward 100 England
9 Graeme Souness 1978-1984 Midfield 56 Scotland
10 Emlyn Hughes 1967-1979 Midfield 49 England
11 Ray Clemence 1967-1981 Goalkeeper 0 England
12 Alan Hansen 1977-1991 Defender 14 Scotland
13 Roger Hunt 1959-1969 Forward 286 England
14 Michael Owen 1996-2004 Forward 158 England
15 Ian Callaghan 1960-1978 Winger 68 England
16 Jan Mølby 1984-1996 Midfield 62 Denmark
17 Bruce Grobbelaar 1981-1994 Goalkeeper 0 Zimbabwe
18 David Fairclough 1974-1983 Forward 55 England
19 Peter Beardsley 1987-1991 Forward 59 England
20 Phil Neal 1974-1985 Full-Back 60 England
21 Ian St. John 1961-1971 Forward 118 Scotland
22 McManamaN 1989-1999 Winger 66 England
23 Steve Heighway 1970-1981 Winger 76 Ireland
24 John Arne Riise 2001- Defender 26 Norway
25 Tommy Smith 1960-1978 Defender 48 England
26 John Aldridge 1987-1989 Forward 63 Ireland
27 Phil Thompson 1971-1985 Defender 13 England
28 Ray Kennedy 1974-1982 Midfield 72 England
29 Ron Yeats 1961-1971 Defender 16 Scotland
30 Ronnie Whelan 1979-1994 Midfield 73 Ireland
31 Alan Kennedy 1978-1985 Left-Back 21 England
32 Gary McAllister 2000-2002 Midfield 10 Scotland
33 Xabi Alonso 2004-2009 Midfield 8 Spain
34 John Toshack 1970-1978 Forward 96 Wales
35 Mark Lawrenson 1981-1988 Defender 18 Ireland
36 Jerzy Dudek 2001-2007 Goalkeeper 0 Poland
37 Terry McDermott 1974-1982 Midfield 81 England
38 Sami Hyypiä 1999-2009 Defender 26 Finland
39 Steve Nicol 1981-1995 Defender 46 Scotland
40 Jamie Redknapp 1991-2002 Midfield 41 England
41 Elisha Scott 1912-1934 Goalkeeper 0 Northern Ireland
42 Steve McMahon 1985-1991 Midfield 50 England
43 Luis García 2004-2007 Midfielder 24 Spain
44 Dietmar Hamann 1999-2006 Midfield 11 Germany
45 Jimmy Case 1973-1981 Midfield 46 England
46 Gerry Byrne 1957-1969 Full-Back 5 England
47 Sammy Lee 1977-1986 Midfield 19 England
48 Peter Thompson 1963-1974 Winger 54 England
49 Alex Raisbeck 1898-1909 Back 21 Scotland
50 Albert Stubbins 1946-1953 Forward 83 England
51 Chris Lawler 1963-1976 Right-Back 61 England
52 Ray Houghton 1987-1992 Midfield 38 Ireland
53 Markus Babbel 2000-2004 Defender 6 Germany
54 Gordon Hodgson 1926-1936 Forward 240 England
55 Steve Finnan 2003- Right Back 1 Ireland
56 Bob Paisley 1939-1954 Defender 13 England
57 Stan Collymore 1995-1997 Forward 35 England
58 Henchoz 1999-2005 Defender 0 Switzerland
59 Craig Johnston 1981-1988 Midfielder 40 Australia
60 Rob Jones 1991-1999 Right-Back 0 England
61 Pepe Reina 2005- Goalkeeper 0 Spain
62 Danny Murphy 1997-2004 Midfield 44 England
63 Joey Jones 1975-1978 Left-Back 3 Wales
64 Vladimír Šmicer 1999-2005 Midfielder 19 Czech Republic
65 Mark Wright 1991-1998 Defender 7 England
66 Matt Busby 1936-1945 Wing-Half 3 Scotland
67 Djibril Cissé 2004-2007 Forward 24 France
68 Gary Gillespie 1983-1991 Defender 16 Scotland
69 Jari Litmanen 2001-2002 Forward 9 Finland
70 Ronnie Moran 1952-1969 Full-Back 16 England
71 Paul Walsh 1984-1988 Forward 37 England
72 Longworth 1910-1928 Full-Back 0 England
73 Peter Crouch 2005- Forward 13 England
74 Jack Balmer 1935-1952 Forward 111 England
75 Brian Hall 1968-1976 Midfield 21 England
76 Ronny Rosenthal 1990-1993 Forward 22 Israel
77 David Johnson 1976-1982 Forward 78 England
78 Sam Raybould 1900-1907 Forward 128 England
79 Patrik Berger 1996-2003 Midfield 35 Czech Republic
80 Tommy Lawrence 1957-1971 Goalkeeper 0 Scotland
81 Alan A’Court 1952-1964 Midfield 63 England
82 Phil Taylor 1936-1954 Defender 34 England
83 Michael Thomas 1991-1998 Midfield 12 England
84 Howard Gayle 1977-1983 Winger 1 England
85 Alec Lindsay 1969-1977 Left-Back 8 England
86 Nick Barmby 2000-2002 Midfielder 8 England
87 Alun Evans 1968-1972 Forward 33 England
88 Mark Walters 1991-1995 Winger 19 England
89 Donald McKinlay 1910-1929 Defender 34 Scotland
90 Neil Mellor 2003-2006 Forward 6 England
91 Titi Camara 1999-2000 Forward 10 Guinea
92 Harry Chambers 1915-1928 Forward 151 England
93 Momo Sissoko 2005- Midfield 0 Mali
94 Sam Hardy 1905-1912 Goalkeeper 0 England
95 Geoff Strong 1964-1970 Utility 32 England
96 Nicolas Anelka 2001-2002 Forward 5 France
97 Nigel Clough 1993-1995 Midfield 9 England
98 Tom Bromilow 1919-1930 Left Half 11 England
99 Erik Meijer 1999-2000 Forward 2 Netherlands
100 John Wark 1984-1988 Midfield 42 Scotland

Jumat, 20 September 2013

Arti dan Makna Logo Liverpool FC "The Reds" (Plus Sejarahnya)




Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai Liverpool atau The Reds) adalah sebuah klub sepak bola peserta Liga Utama Inggris. Liverpool adalah klub tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris yang bermarkas di kota Liverpool. Liverpool telah memenangkan 5 tropi Liga Champions (dulu Piala Champions), yang merupakan rekor Inggris.18 gelar Liga Inggris, 7 Piala FA, serta, 7 kali juara Piala Liga. Stadion mereka berada di Anfield, yang terletak sekitar 4,8 km dari pusat kota Liverpool.


Lambang 'Liver Bird' pertama kali muncul di seragam Liverpool FC pada partai final Piala FA tahun 1950. Lambang yang secara signifikan telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Liverpool FC. Lambang Liverpool ini mengalami perubahan pertama pada musim kompetisi 1955/56 dimana gambar 'Liver Bird' berada di dalam lingkaran ouval dan tulisan L.F.C berada di bawah 'Liver Bird'. Lambang versi ini bertahan sampai tahun 1968.
Pada tahun 1968 diambil keputusan untuk memperkenalkan lambang klub yang lebih modern. Lambang 'Liver Bird' langsung disulam ke seragam pemain dengan menyingkirkan garis pijakan pada kaki 'Liver Bird' dan menghilangkan lingkaran ouval. Lambang ini bertahan sampai tahun 1987, dimana pada tahun 1985 sponsor seragam berubah dari UMBRO kepada ADIDAS.
Seiring dengan perubahan sponsor seragam, maka lambang Liverpool pada tahun 1987 mengalami perubahan yang ke 3. Lambang 'Liver Bird' kembali berada di dalam tameng seperti lambang Liverpool FC yang pertama, tetapi kali ini penulisan Liverpool Football Club di bawah 'Liver Bird' tidak di singkat. Lambang ini bertahan sampai tahun 1992, dimana Liverpool FC akan mengadakan perayaan hari jadi yang ke 100 tahun.
Untuk merayakan 100 tahun Liverpool FC, lambang klub mengalami perubahan yang cukup signifikan. Penambahan ornamen 'Shankly Gates' dengan tulisan 'You'll Never Walk Alone' di atas tameng 'Liver Bird' dimaksudkan untuk mengingatkan jasa manajer Bill Shankly yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Di dalam tameng terdapat tulisan Liverpool Football Club 100 tahun dan lambang 'Liver Bird'. Kemudian di bawah tameng ada tulisan angka 1892-1992.
Tahun 1993 lambang klub kembali berubah dengan penambahan kobaran api kembar di kedua sisi tameng 'Liver Bird'. Kobaran api kembar ini untuk mengenang para Liverpudlian yang menjadi korban pada tragedi Hillsborough. Lambang Liverpool terakhir ini tidak banyak mengalami perubahan sampai dengan tahun 1999. Lambang Liverpool FC yang sekarang ini dibuat pada tahun 1999 hanya dengan komposisi 2 warna. Tetapi sejak tahun 2002, lambang Liverpool FC dibuat dengan 'full colour' seperti sekarang ini.

Salah satu klub tersukses di Inggris Raya. Didirikan pada 1892 akibat perseteruan antara Komite Everton FC dengan John Holding sebagai Presiden Club yang juga pemilik stadion Anfield. Akibat dari perseteruan itu, Everton akhirnya pindah ke stadion Goodison Park dan John Holding menjadikan stadion Anfield sebagai kandang Liverpool FC sampai sekarang. Klub sempat diberi nama Everton FC and Athletic Grounds, Ltd., atau diringkas Everton Athletic, namun FA menolak mengakui ada dua tim bernama Everton. Akhirnya pada bulan Juni 1892 John Houlding pun akhirnya memilih nama Liverpool FC. Liverpool menjelma kekuatan serius di kompetisi sepakbola Inggris.
Pada musim pertamanya, Liverpool FC berhasil menjuarai Lancashire League sebelum akhirnya bergabung dengan Divisi II Liga Inggris pada musim 1893/94. Pada musim pertamanya di Divisi II Liga Inggris, Liverpool FC langsung menjadi juara dan berhak untuk promosi ke Divisi I Liga Inggris ( sekarang Premiere League ). Tak butuh lama bagi Liverpool untuk mencicipi gelar di liga, karena pada musim pertamanya di Divisi I ini (musim 1900/01), Liverpool sukses menjuarai Divisi Satu dan mengulanginya lagi lima tahun kemudian. Liverpool FC sukses meraih juara liga 2 musim berturut-turut yaitu musim 1921/22 dan 1922/23, namun tidak mendapatkan tropi lagi sampai musim 1946/47 ketika berhasil meraih gelar liganya yang ke 5. Final Piala FA pertama dilakukan pada 1914, meskipun akhirnya mereka dikalahkan Burnley 1-0. Setelah mengarungi Divisi I selama lebih dari 50 tahun, akhirnya Liverpool FC mengalami kemerosotan dan terdegradasi ke Divisi II pada musim 1953/54.
Liverpool sempat terseok-seok sebelum akhirnya Bill Shankly datang sebagai manajer pada bulan Desember 1959. Shankly merombak tim secara besar-besaran dengan melepas 24 pemain lama dan menggunakan sebuah ruangan di stadion Anfield untuk menggelar rapat kepelatihan. Ruangan ini di namakan 'The Boot Room' yang berhasil melahirkan manajer-manajer legendaris Liverpool di kemudian hari. Di ruangan inilah Bill Shankly dan anggota 'Boot Room' lainnya seperti Bob Paisley, Joe Fagan dan Reuben Bennett mulai membangun kekuatan Liverpool FC yang membuat iri tim musuh. Hasil dari renovasi yang dilakukan oleh Bill Shankly mulai membuahkan hasil ketika berhasil promosi ke Divisi I pada musim 1961/62 dan menjadi juara liga pada musim 1963/64. Setelah menjuarai Piala FA yang pertama pada tahun 1965 dan menjuarai Liga pada musim 1965/66, Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar juara Liga dan piala UEFA pada musim kompetisi 1972/73. Musim berikutnya Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar piala FA setelah membantai Newcastle United 3-0. Tidak ada yang menyangka bahwa gelar piala FA itu merupakan persembahan terakhir dari seorang Bill Shankly. Karena secara tiba-tiba Bill Shankly memutuskan untuk pensiun. Pemain dan Liverpudlian ( julukan untuk penggemar fanatik Liverpool FC ) berusaha untuk membujuk, bahkan para pekerja di Liverpool mengancam akan melakukan mogok kerja. Tetapi Bill Shankly tetap pada pendiriannya dan menyerahkan tongkat manajerial kepada asisten-nya yaitu Bob Paisley. Bill Shankly akhirnya pensiun pada tahun 1974 dan bergabung dengan Liverpudlian di tribun The Kop.
Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti : Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuad muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya.
Sebagai penerus Bob Paisley yang pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun. Selain itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Heysel. Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada Kenny Dalglish yang ditunjuk sebagai player-manager. Joe Fagan menyerahkan tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang manajer.
Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri. Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.
Perginya 'King' Kenny Dalglish dan 2 tragedi yang mengerikan ( Heysel dan Hillsborough ) sepertinya memberikan trauma, hukuman atau kutukan yang mendalam bagi Liverpool Football Club. Kedatangan Graeme Souness pun tidak mengubah peruntungan Liverpool FC. Walaupun Souness bisa memberikan gelar Piala FA pada tahun 1992, tetapi dengan kebijakan transfer pemain yang kurang baik dan penerapan strategi yang sedikit membingungkan menjadikan Liverpool tampil tidak konsisten pada musim itu. Hal lain yang memperburuk hubungan Souness dan Liverpudlian adalah ketika Souness menceritakan proses pemulihan kesehatannya pasca operasi jantung kepada koran The Sun. Seperti diketahui bahwa masyarakat di Merseyside memboikot koran The Sun yang sering memojokkan Liverpudlian mengenai tragedi Hillsborough. Pada 28 Januari 1994 Graeme Souness akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool FC setelah tersingkir dari Piala Liga dan Piala FA. Pelatih Roy Evans ditunjuk sebagai manajer Liverpool FC selanjutnya. Liverpool FC berada di urutan ke 8 klasemen hasil terburuk selama 29 tahun terakhir. Walaupun secara raihan gelar juara Graeme Souness tidak sukses, tetapi pada masa kepemimpinannya banyak lahir talenta muda diantaranya : Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Rob Jones dan David James.
Manajer Liverpool selanjutnya adalah pelatih senior Roy Evans yang sudah bersama Liverpool FC selama lebih dari 30 tahun. Pada musim 1994/95 Liverpool menduduki peringkat 5 Liga Primer Inggris dan berhasil menjuarai Piala Liga dengan mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-1. Roy Evans berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool yaitu 'pass and move'. Tetapi permainan apik dan indah Liverpool FC pada masa ini tidak diimbangi determinasi dan agresifitas yang memadai dari para pemainnya, sehingga Liverpool pada masa Roy Evans sering disebut 'Spice Boys'. Selain semakin matangnya pemain seperti : Robbie Fowler, Steve McManaman dan Jamie Redknapp, pada masa kepelatihan Roy Evans muncul bakat muda bernama Michael Owen yang berhasil mencetak 18 gol dan menjadi PFA Young Player of the Year Award pada tahun 1998.
Pada musim kompetisi 1998/99 Liverpool FC menarik pelatih asal Prancis Gerard Houllier untuk berpartner dengan Roy Evans sebagai 'joint manager'. Tetapi Roy Evans merasa tidak cocok bekerjasama dengan Gerard Houllier, sehingga mengundurkan diri pada bulan November 1998. Setelah menjadi manajer tunggal, Houllier merombak total tim dengan memasukan pemain seperti : Sami Hyypia, Stephan Henchoz, Markus Babbel, Dietmar Hamann, Gary McAllister dan Emile Heskey. Selain muncul bintang muda Michael Owen, Houllier juga berhasil mempromosikan bakat muda dengan talenta luar biasa bernama Steven Gerrard. Tahun 2001 menjadi tahun terbaik Liverpool FC setelah mengalami kemerosotan prestasi di tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga, Piala FA, Piala UEFA, Piala Charity Shield dan Piala Super UEFA. Keberhasilan ini memunculkan secercah harapan bagi Liverpool untuk dapat meraih gelar juara Liga Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. Pada tahun 2003 Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga dan menduduki peringkat ke 4 pada musim 1993/94 sehingga berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions. Walaupun berhasil memberikan sejumlah gelar buat Liverpool FC, tetapi taktik bertahan yang diterapkan Gerard Houllier dianggap tidak bisa bersaing untuk meraih gelar Liga Inggris. Taktik bertahan dan mengandalkan serangan balik sangat mudah diantisipasi oleh lawan, sehingga pada 24 Mei 2004 Gerard Houllier digantikan oleh Rafael Benitez.
Rafael Benitez datang ke Liverpool FC setelah berhasil membawa Valencia menjadi juara Liga Spanyol 2 kali dan juara Piala UEFA. Harapan Liverpudlian untuk menjadi juara Liga Inggris kembali membumbung tinggi setelah Benitez berhasil membawa Liverpool FC menjuarai Liga Champions untuk yang ke 5 kalinya. Pada final yang dikenang sebagai partai terhebat sepanjang masa, Liverpool FC berhasil mengalahkan AC Milan setelah tertinggal 0-3 di babak pertama. Tetapi gol dari kapten Steven Gerrard, Vladimir Smicer dan penalti Xabi Alonso berhasil membawa Liverpool FC ke babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Kiper Liverpool FC Jerzy Dudek menjadi pahlawan setelah berhasil menahan tendangan penalti Shevchenko. Kemenangan pada partai final Liga Champions inilah yang menjadi alasan kapten dan legenda hidup Liverpool FC Steven Gerrard untuk tidak pindah ke klub lain. Keputusan yang disambut gembira oleh para Liverpudlian. Liverpool FC kemudian dibawa Rafael Benitez untuk menjadi juara Piala Super Eropa dengan mengalahkan juara Piala UEFA CSKA Moskow dengan skor 3-1. Piala FA tahun 2006 menjadi piala terakhir yang dipersembahkan oleh Rafael Benitez untuk Liverpool FC. Dalam perjalanan menuju final piala FA, Liverpool FC mengalahkan Luton Town dengan skor 5-3, MU 1-0, Birmingham City 7-0 dan mengalahkan Chelsea 2-1 di semi-final. Di partai final Liverpool FC berhasil mengalahkan West Ham United dengan Steven Gerrard sebagai Man Of The Match. Steven Gerrard memberi umpan untuk gol pertama, melakukan tendangan voli untuk gol ke 2 dan melakukan tendangan jarak jauh yang fenomenal pada menit ke 91. Dengan skor 3-3 akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Walaupun selama pertandingan kiper Pepe Reina beberapa kali melakukan kesalahan fatal, tetapi pada saat adu penalti berhasil menahan 3 dari 4 tendangan pemain West Ham United. Final Piala FA ini disebut sebagai 'Final-nya Gerrard' dan dicatat sebagai partai final terbaik di era modern Piala FA. Setelah memenangi Piala Community Shield tahun 2006 dan berhasil mencapai final Liga Champions 2007, musim-musim berikutnya menjadi musim tanpa gelar bagi Rafael Benitez dan Liverpool FC. Satu-satunya kabar yang menggembirakan bagi Liverpudlian adalah kembalinya 'King' Kenny Dalglish untuk membidani Liverpool FC Youth Academy pada tahun 2009. Akhirnya Rafael Benitez berhaenti pada tanggal 3 Juni 2010 dan digantikan oleh Roy Hodgson. Pada masa kepemimpinan Rafael Benitez, Liverpool FC mengalami 2 kali peralihan kepemilikan klub. Yang pertama pada tahun 2007 ketika dibeli oleh George Gillett and Tom Hicks dan pada tahun 2010 ketika Liverpool FC di ambil alih New England Sports Ventures milik John W. Henry.
1 Juli 2010 Roy Hodgson resmi menangani Liverpool FC selama tiga tahun. Pada keterangan pers Roy Hodgson mengatakan sangat bangga bisa menangani klub sebesar Liverpool FC dan tidak sabar untuk bertemu dengan para pemain, Liverpudlian dan ingin segera bekerja di Melwood. Tetapi situasi di Liverpool FC pada saat itu masih sangat tidak menentu karena sedang dalam masa peralihan kepemilikan. Hiruk pikuk berita tentang kebangkrutan klub dan proses peralihan yang berkepanjangan sangat memengaruhi suasana di Liverpool FC pada saat itu. Liverpool FC pun akhirnya mengawali musim 2010/11 dengan sangat buruk. Sampai pertengahan bulan Oktober Liverpool FC berada di zona degradasi dan kalah dari klub divisi II Northampton Town. Selain itu Liverpool FC menghadapi ancaman pengurangan 9 poin dari FA bila tidak bisa menyelesaikan situasi internal. Akhirnya pada bulan Januari 2011 Liverpool FC dan Roy Hodgson sepakat untuk mengakhiri kerjasama dan posisi manajer selanjutnya dijabat oleh 'King' Kenny Dalglish untuk yang ke 2 kalinya sampai akhir musim.
Tepatnya 8 Januari 2011 'King' Kenny Dalglish resmi menjabat sebagai manajer Liverpool FC untuk yang ke 2 kalinya. Walaupun pada pertandingan perdana mengalami kekalahan di Piala FA, tetapi 'King' Kenny Dalglish berhasil mengembalikan performa pemain dan ciri khas 'pass and move' Liverpool FC. Buktinya 'King' Kenny Dalglish berhasil mengangkat Liverpool FC dari zona degradasi ke posisi 6 klasemen sementara Liga Inggris. Hasil ini tidak lepas dari keberanian 'King' Kenny Dalglish untuk menjual pemain bintang seperti Fernando Torres kemudian membeli Luis Suarez dari Ajax Amsterdam dan Andy Caroll dari Newcastle United. Keberanian dalam hal memasang pemain muda seperti : Martin Kelly, Jay Spearing dan Danny Wilson pun layak diacungi jempol. Raihan inilah yang membuat banyak pihak mendesak agar 'King' Kenny Dalglish di kontrak secara permanen sebagai manajer Liverpool FC.


Source : http://kuwarasanku.blogspot.com/2011/05/arti-dan-makna-logo-liverpool-fc-reds.html#ixzz2fScS7RlS

Liverpool F.C.




Lambang Liverpool F.C.
Nama lengkap Liverpool Football Club
Julukan The Reds
Didirikan 15 Maret 1892
(oleh John Houlding)
Stadion Anfield
(Kapasitas: 45.276[1])
Pemilik Bendera Amerika Serikat John W. Henry dan Tom Werner
(New England Sports Ventures)
Ketua Bendera Amerika Serikat Tom Werner
Manajer Bendera Irlandia Utara Brendan Rodgers
Liga Liga Utama Inggris
Posisi 2012—13 ke-7, Liga Utama Inggris

Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga
Soccerball current event.svg Musim ini
Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai Liverpool atau The Reds) adalah sebuah klub sepak bola asal Inggris yang berbasis di Kota Liverpool. Saat ini Liverpool adalah peserta Liga Utama Inggris.
Liverpool telah memenangkan 5 trofi Liga Champions UEFA (dulu Piala Champions) dan merupakan klub dengan pemegang gelar juara Liga Champions UEFA terbanyak di Inggris dan ketiga di Eropa setelah Real Madrid dan AC Milan[2]. Selain itu Liverpool juga pemegang masing-masing 3 gelar juara Liga Eropa UEFA[3] dan Piala Super UEFA[4].
Di kompetisi domestik, Liverpool adalah klub dengan 18 gelar juara Liga Inggris, 7 Piala FA, serta 7 kali juara Piala Liga.
Liverpool didirikan pada tahun 1892 dan bergabung dengan Football League pada tahun berikutnya. Klub ini telah bermain di Stadion Anfield sejak pembentukannya yang terletak sekitar 4,8 km dari pusat kota Liverpool.
Periode paling sukses dalam sejarah Liverpool adalah pada tahun 1970-an dan 1980-an ketika Bill Shankly dan Bob Paisley memimpin klub dengan sebelas gelar liga dan tujuh piala Eropa.
Liverpool memiliki sejarah persaingan yang panjang dengan klub tetangganya Everton dan juga dengan Manchester United. Persaingan dengan klub sekota terkenal dengan nama Derby Merseyside.

Sejarah

Masa awal dan pembentukan

Liverpool didirikan pada tanggal 15 Maret 1892[5] sebagai akibat perseteruan antara Komite Everton FC dengan John Holding sebagai Presiden Klub yang juga pemilik stadion Anfield. Sebelumnya pada tahun 1891 John Houlding, sebagai penyewa dari Stadion Anfield, membeli tanah tersebut secara langsung dan mengusulkan meningkatkan harga sewa dari £ 100 sampai £ 250 per tahun[6]. Everton, yang telah bermain di Anfield selama tujuh tahun, menolaknya dan terjadi perseteruan.

Liverpool tahun 1892-93
Akibat dari perseteruan itu, Everton akhirnya pindah ke stadion Goodison Park dan John Holding menjadikan stadion Anfield sebagai kandang Liverpool sampai sekarang[7].
Klub sempat diberi nama Everton FC and Athletic Grounds, Ltd., atau diringkas Everton Athletic, namun Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menolak mengakui ada dua tim bernama Everton[8]. Pada bulan Juni 1892, John Houlding akhirnya memilih nama Liverpool F.C. sebagai nama baru, dan Liverpool menjelma menjadi kekuatan serius di kompetisi sepak bola Inggris.
Mengawali debutnya sebagai klub sepak bola profesional Liverpool bermain di Liga Lancashire dan berhasil menjadi juara sebelum akhirnya bergabung dengan Divisi II Liga Inggris (sekarang bernama Football League Championship) pada musim 1893-94. Pada musim pertamanya di Divisi II, Liverpool langsung menjadi juara dan berhak untuk promosi ke Divisi I (sekarang bernama Liga Primer Inggris). Liverpool tidak menunggu lama untuk menjadi juara liga, karena pada musim pertamanya di Divisi I ini (1900-01), Liverpool sukses menjuarai Divisi I dan mengulanginya lagi lima tahun kemudian[9].

Masa perkembangan

Final Piala FA pertama dilakukan pada tahun 1914, meskipun akhirnya mereka dikalahkan Burnley 1-0. Setelah itu Liverpool berhasil meraih juara liga 2 musim berturut-turut yaitu musim 1921-22 dan 1922-23, namun tidak mendapatkan tropi lagi sampai musim 1946-47 ketika berhasil meraih gelar liganya yang ke 5[10]. Setelah berada di Divisi I selama lebih dari 50 tahun, akhirnya Liverpool mengalami kemerosotan dan terdegradasi ke Divisi II pada musim 1953-54[11].
Beberapa saat setelah Liverpool dikalahkan oleh Worcester City, klub di luar Football League pada Piala FA musim 1958-59, Bill Shankly ditunjuk sebagai manajer pada bulan Desember 1959. Shankly merombak tim secara besar-besaran dengan melepas 24 pemain lama dan menggunakan sebuah ruangan di stadion Anfield untuk menggelar rapat kepelatihan. Ruangan ini di namakan 'The Boot Room' yang berhasil melahirkan manajer-manajer legendaris Liverpool di kemudian hari.
Di ruangan inilah Bill Shankly dan anggota 'Boot Room' lainnya seperti Bob Paisley, Joe Fagan dan Reuben Bennett[12] mulai membangun kekuatan Liverpool yang membuat iri tim lain. Hasil dari renovasi yang dilakukan oleh Bill Shankly mulai membuahkan hasil ketika berhasil promosi kembali ke Divisi I pada musim 1961-62 dan menjadi juara liga pada musim 1963-64.

Masa kejayaan


Patung mantan manajer Bill Shankly, diluar Stadion Anfield
Liverpool meraih era terbaiknya saat dibawah manajer Bill Shankly. Pelatih ini kemudian menjadi legenda Liverpool. Ia sangat dihormati karena berhasil membawa Liverpool kembali ke divisi satu setelah sebelumnya berada di divisi dua selama 8 musim. Untuk menghormati jasanya, dibuatlah patung Bill Shankly di pintu masuk Anfield. Pemain-pemain yang terkenal pada masa ini termasuk Ray Clemence, Mark Lawrenson, Graeme Souness, Ian Callaghan, Phil Neal, Kevin Keegan, Alan Hansen, Kenny Dalglish (102 cap), dan Ian Rush (346 gol)

Era Bill Shankly

Setelah menjuarai Piala FA yang pertama pada tahun 1965 dan menjuarai liga pada musim 1965-66, Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar juara liga dan Piala UEFA pada musim kompetisi 1972-73. Musim berikutnya Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar Piala FA setelah membantai Newcastle United 3-0. Tidak ada yang menyangka bahwa gelar Piala FA itu merupakan persembahan terakhir dari seorang Bill Shankly. Karena secara tiba-tiba Bill Shankly memutuskan untuk pensiun.
Pemain dan Liverpudlian ( julukan untuk penggemar fanatik Liverpool FC yang berasal dari kota Liverpool, sedangkan penggemar dari luar kota Liverpool disebut Kopites) berusaha untuk membujuk, bahkan para pekerja di Liverpool mengancam akan melakukan mogok kerja. Tetapi Bill Shankly tetap pada pendiriannya dan menyerahkan tongkat manajerial kepada asisten-nya yaitu Bob Paisley. Bill Shankly akhirnya pensiun pada tahun 1974[13] dan bergabung dengan Liverpudlian di tribun The Kop.

Era Bob Paisley

Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, ia memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champions, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut[14].
Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya.

Era Joe Fagan

Paisley pensiun pada tahun 1983 dan digantikan oleh asistennya Joe Fagan[15]. Sebagai penerus Bob Paisley, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, di musim pertamanya berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga Inggris, juara Piala Liga dan juara Piala Champions. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepak bola pertama di Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi[16].
Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di Stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool dan Juventus F.C. ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun. Selain itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Heysel.
Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada Kenny Dalglish[17] yang ditunjuk sebagai manajer-pemain. Joe Fagan menyerahkan tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang manajer.

Era Kenny Dalglish

Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985-86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu.
Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forest F.C. tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion[18]. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun[19].
Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepak bola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan[20]. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri.
Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepak bola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris.
Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness[21] sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.

Masa liga primer

Perginya 'King' Kenny Dalglish dan 2 tragedi yang mengerikan ( Heysel dan Hillsborough ) sepertinya memberikan trauma, hukuman atau kutukan yang mendalam bagi Liverpool FC. Kedatangan Graeme Souness pun tidak mengubah peruntungan Liverpool FC. Walaupun Souness bisa memberikan gelar Piala FA pada tahun 1992, tetapi dengan kebijakan transfer pemain yang kurang baik dan penerapan strategi yang sedikit membingungkan menjadikan Liverpool tampil tidak konsisten pada musim itu. Hal lain yang memperburuk hubungan Souness dan Liverpudlian adalah ketika Souness menceritakan proses pemulihan kesehatannya pasca operasi jantung kepada koran The Sun.
Seperti diketahui bahwa masyarakat di Merseyside memboikot koran The Sun yang sering memojokkan Liverpudlian mengenai Tragedi Hillsborough. Pada 28 Januari 1994, Graeme Souness akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool FC setelah tersingkir dari Piala Liga Inggris dan Piala FA. Pelatih Roy Evans ditunjuk sebagai manajer Liverpool FC selanjutnya. Liverpool FC berada di urutan ke 8 klasemen hasil terburuk selama 29 tahun terakhir. Walaupun secara raihan gelar juara Graeme Souness tidak sukses, tetapi pada masa kepemimpinannya banyak lahir talenta muda diantaranya : Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Rob Jones dan David James.
Manajer Liverpool selanjutnya adalah pelatih senior Roy Evans yang sudah bersama Liverpool FC selama lebih dari 30 tahun. Pada musim 1994-95 Liverpool menduduki peringkat 5 Liga Primer Inggris dan berhasil menjuarai Piala Liga Inggris dengan mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-1. Roy Evans berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool yaitu pass and move. Tetapi permainan apik dan indah Liverpool FC pada masa ini tidak diimbangi determinasi dan agresifitas yang memadai dari para pemainnya, sehingga Liverpool pada masa Roy Evans sering disebut Spice Boys.
Selain semakin matangnya pemain seperti : Robbie Fowler, Steve McManaman dan Jamie Redknapp, pada masa kepelatihan Roy Evans muncul bakat muda bernama Michael Owen yang berhasil mencetak 18 gol dan menjadi PFA Young Player of the Year Award pada tahun 1998.
Pada musim kompetisi 1998-99 Liverpool FC menarik pelatih asal Perancis, Gérard Houllier untuk berpartner dengan Roy Evans sebagai joint manager. Tetapi Roy Evans merasa tidak cocok bekerjasama dengan Houllier, sehingga mengundurkan diri pada bulan November 1998. Setelah menjadi manajer tunggal, Houllier merombak total tim dengan memasukan pemain seperti : Sami Hyypia, Stephan Henchoz, Markus Babbel, Dietmar Hamann, Gary McAllister dan Emile Heskey. Selain muncul bintang muda Michael Owen, Houllier juga berhasil mempromosikan bakat muda dengan talenta luar biasa bernama Steven Gerrard.
Pada tahun 2001, musim ke-2 Houllier sebagai manajer tunggal, Liverpool memenangi "Treble" yaitu : Piala FA, Piala Liga and Liga Eropa UEFA .[22] Tahun 2001 menjadi tahun terbaik Liverpool FC setelah mengalami kemerosotan prestasi pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga Inggris, Piala FA, Piala UEFA, Community Shield dan Piala Super UEFA.
Keberhasilan ini memunculkan secercah harapan bagi Liverpool untuk dapat meraih gelar juara Liga Utama Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. Pada tahun 2003 Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga Inggris dan menduduki peringkat ke 4 pada musim 1993-94 sehingga berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions UEFA. Walaupun berhasil memberikan sejumlah gelar buat Liverpool FC, tetapi taktik bertahan yang diterapkan Houllier dianggap tidak bisa bersaing untuk meraih gelar Liga Inggris. Taktik bertahan dan mengandalkan serangan balik sangat mudah diantisipasi oleh lawan, sehingga pada 24 Mei 2004, Gérard Houllier digantikan oleh Rafael Benitez.

Era Rafael Benitez

Rafael Benitez datang ke Liverpool FC setelah berhasil membawa Valencia menjadi juara Liga Spanyol 2 kali dan juara Piala UEFA. Harapan Liverpudlian untuk menjadi juara Liga Inggris kembali membumbung tinggi setelah Benitez berhasil membawa Liverpool FC menjuarai Liga Champions UEFA 2004-05 untuk yang ke 5 kalinya. Pada final yang dikenang sebagai partai terhebat sepanjang masa, Liverpool FC berhasil mengalahkan A.C. Milan setelah tertinggal 0-3 di babak pertama[23]. Tetapi gol dari kapten Steven Gerrard, Vladimir Smicer dan penalti Xabi Alonso berhasil membawa Liverpool FC ke babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Kiper Liverpool FC Jerzy Dudek menjadi pahlawan setelah berhasil menahan tendangan penalti Shevchenko.
Kemenangan pada partai final Liga Champions inilah yang menjadi alasan kapten dan legenda hidup Liverpool FC Steven Gerrard untuk tidak pindah ke klub lain. Keputusan yang disambut gembira oleh para Liverpudlian. Liverpool FC kemudian dibawa Rafael Benitez untuk menjadi juara Piala Super Eropa dengan mengalahkan juara Piala UEFA CSKA Moskwa dengan skor 3-1.
Piala FA tahun 2006 menjadi piala terakhir yang dipersembahkan oleh Rafael Benitez untuk Liverpool FC. Dalam perjalanan menuju final piala FA, Liverpool FC mengalahkan Luton Town dengan skor 5-3, Manchester United 1-0, Birmingham City 7-0 dan mengalahkan Chelsea 2-1 di semi-final. Di partai final Liverpool FC berhasil mengalahkan West Ham United[24] dengan Steven Gerrard sebagai Man Of The Match.
Steven Gerrard memberi umpan untuk gol pertama, melakukan tendangan voli untuk gol ke 2 dan melakukan tendangan jarak jauh yang fenomenal pada menit ke 91. Dengan skor 3-3 akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Walaupun selama pertandingan kiper Pepe Reina beberapa kali melakukan kesalahan fatal, tetapi pada saat adu penalti berhasil menahan 3 dari 4 tendangan pemain West Ham United. Final Piala FA ini disebut sebagai 'Final-nya Gerrard' dan dicatat sebagai partai final terbaik di era modern Piala FA.
Setelah memenangi Community Shield tahun 2006 dan berhasil mencapai final Liga Champions 2007, musim-musim berikutnya menjadi musim tanpa gelar bagi Rafael Benitez dan Liverpool FC. Satu-satunya kabar yang menggembirakan bagi Liverpudlian adalah kembalinya 'King' Kenny Dalglish untuk membidani Liverpool FC Youth Academy pada tahun 2009. Akhirnya Rafael Benitez berhenti pada tanggal 3 Juni 2010[25] dan digantikan oleh manajer Fulham yaitu Roy Hodgson[26].
Pada masa kepemimpinan Rafael Benitez, Liverpool FC mengalami 2 kali peralihan kepemilikan klub. Yang pertama pada tahun 2007 ketika dibeli oleh George Gillett dan Tom Hicks[27] dan pada tahun 2010 ketika Liverpool FC di ambil alih New England Sports Ventures milik John W. Henry[28].

Era Roy Hodgson

Pada tanngal 1 Juli 2010 Roy Hodgson resmi menangani Liverpool FC selama tiga tahun. Pada keterangan pers Roy Hodgson mengatakan sangat bangga bisa menangani klub sebesar Liverpool FC dan tidak sabar untuk bertemu dengan para pemain, Liverpudlian dan ingin segera bekerja di Melwood. Tetapi situasi di Liverpool FC pada saat itu masih sangat tidak menentu karena sedang dalam masa peralihan kepemilikan. Hiruk pikuk berita tentang kebangkrutan klub dan proses peralihan yang berkepanjangan sangat memengaruhi suasana di Liverpool FC pada saat itu. Liverpool FC pun akhirnya mengawali musim 2010-11 dengan sangat buruk.
Sampai pertengahan bulan Oktober Liverpool FC berada di zona degradasi dan kalah dari klub divisi II Northampton Town. Selain itu Liverpool FC menghadapi ancaman pengurangan 9 poin dari FA bila tidak bisa menyelesaikan situasi internal. Akhirnya pada bulan Januari 2011 Liverpool FC dan Roy Hodgson sepakat untuk mengakhiri kerjasama dan posisi manajer selanjutnya dijabat oleh 'King' Kenny Dalglish untuk yang ke 2 kalinya sampai akhir musim[29].

Kembalinya sang raja

Tepat tanggal 8 Januari 2011 Kenny Dalglish resmi menjabat sebagai manajer Liverpool FC untuk yang ke 2 kalinya. Walaupun pada pertandingan perdana mengalami kekalahan di Piala FA, tetapi 'King' Kenny Dalglish berhasil mengembalikan performa pemain dan ciri khas 'pass and move' Liverpool FC. Buktinya 'King' Kenny Dalglish berhasil mengangkat Liverpool FC dari zona degradasi ke posisi 6 klasemen sementara Liga Inggris.
Hasil ini tidak lepas dari keberanian 'King' Kenny Dalglish untuk menjual pemain bintang seperti Fernando Torres kemudian membeli Luis Suarez dari Ajax Amsterdam dan Andy Carroll dari Newcastle United. Keberanian dalam hal memasang pemain muda seperti: Martin Kelly, Jay Spearing, dan Danny Wilson pun layak diacungi jempol. Raihan inilah yang membuat banyak pihak mendesak agar 'King' Kenny Dalglish di kontrak secara permanen sebagai manajer Liverpool FC.
Setelah mengakhir liga di posisi ke-8 pada musim 2011-12, posisi terburuk di liga selama 18 tahun terakhir,[30] Dalglish diberhentikan sebagai manajer Liverpool.[31] Dalglish digantikan oleh manajer Swansea City yaitu Brendan Rodgers.[32]

Tragedi

Klub ini juga terlibat dalam dua tragedi besar dalam sepak bola Eropa, yaitu dalam Tragedi Heysel pada 1985 dan Tragedi Hillsborough pada 1989. Tragedi Heysel mengakibatkan klub-klub dari Inggris dilarang tampil di ajang kejuaraan Eropa selama 5 tahun.

Lambang

Lambang 'Liver Bird' pertama kali muncul di seragam Liverpool FC pada partai final Piala FA tahun 1950. Lambang yang secara signifikan telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Liverpool FC. Lambang Liverpool ini mengalami perubahan pertama pada musim kompetisi 1955-56 dimana gambar 'Liver Bird' berada di dalam lingkaran ouval dan tulisan L.F.C berada di bawah 'Liver Bird'. Lambang versi ini bertahan sampai tahun 1968.
Pada tahun 1968 diambil keputusan untuk memperkenalkan lambang klub yang lebih modern. Lambang 'Liver Bird' langsung disulam ke seragam pemain dengan menyingkirkan garis pijakan pada kaki 'Liver Bird' dan menghilangkan lingkaran ouval. Lambang ini bertahan sampai tahun 1987, dimana pada tahun 1985 sponsor seragam berubah dari UMBRO kepada ADIDAS.
Seiring dengan perubahan sponsor seragam, maka lambang Liverpool pada tahun 1987 mengalami perubahan yang ke 3. Lambang 'Liver Bird' kembali berada di dalam tameng seperti lambang Liverpool FC yang pertama, tetapi kali ini penulisan Liverpool Football Club di bawah 'Liver Bird' tidak di singkat. Lambang ini bertahan sampai tahun 1992, dimana Liverpool FC akan mengadakan perayaan hari jadi yang ke 100 tahun.
Untuk merayakan 100 tahun Liverpool FC, lambang klub mengalami perubahan yang cukup signifikan. Penambahan ornamen 'Shankly Gates' dengan tulisan 'You'll Never Walk Alone' di atas tameng 'Liver Bird' dimaksudkan untuk mengingatkan jasa manajer Bill Shankly yang telah menjadi pondasi kokoh bagi Liverpool FC. Di dalam tameng terdapat tulisan Liverpool Football Club 100 tahun dan lambang 'Liver Bird'. Kemudian di bawah tameng ada tulisan angka 1892-1992.
Tahun 1993 lambang klub kembali berubah dengan penambahan kobaran api kembar di kedua sisi tameng 'Liver Bird'. Kobaran api kembar ini untuk mengenang para Liverpudlian yang menjadi korban pada tragedi Hillsborough.[33] Lambang Liverpool terakhir ini tidak banyak mengalami perubahan sampai dengan tahun 1999. Lambang Liverpool FC yang sekarang ini dibuat pada tahun 1999 hanya dengan komposisi 2 warna. Tetapi sejak tahun 2002, lambang Liverpool FC dibuat dengan 'full colour' seperti sekarang ini.

Pemasok kostum dan sponsor

Pemasok kostum

Skuat

Tim utama

Per 3 September 2013.[34]
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
No.
Pos. Nama
1 Bendera Australia GK Brad Jones
2 Bendera Inggris DF Glen Johnson
3 Bendera Spanyol DF José Enrique
4 Bendera Pantai Gading DF Kolo Touré
5 Bendera Denmark DF Daniel Agger (wakil kapten)
6 Bendera Spanyol FW Luis Alberto
7 Bendera Uruguay FW Luis Suárez
8 Bendera Inggris MF Steven Gerrard (kapten)
9 Bendera Spanyol FW Iago Aspas
10 Bendera Brasil MF Philippe Coutinho
12 Bendera Nigeria FW Victor Moses (pinjaman dari Chelsea)
14 Bendera Inggris MF Jordan Henderson
15 Bendera Inggris FW Daniel Sturridge
16 Bendera Uruguay DF Sebastián Coates
17 Bendera Perancis DF Mamadou Sakho
20 Bendera Perancis DF Aly Cissokho (pinjaman dari Valencia)
21 Bendera Brasil MF Lucas Leiva

No.
Pos. Nama
22 Bendera Belgia GK Simon Mignolet
24 Bendera Wales MF Joe Allen
26 Bendera Portugal DF Tiago Ilori
31 Bendera Inggris MF Raheem Sterling
33 Bendera Inggris MF Jordon Ibe
34 Bendera Inggris DF Martin Kelly
36 Bendera Jerman FW Samed Yeşil
37 Bendera Slowakia DF Martin Škrtel
38 Bendera Inggris DF Jon Flanagan
43 Bendera Irlandia Utara DF Ryan McLaughlin
45 Bendera Jerman DF Stephen Sama
47 Bendera Inggris DF Andre Wisdom
48 Bendera Inggris FW Jerome Sinclair
50 Bendera Inggris FW Adam Morgan
51 Bendera Wales DF Lloyd Jones
52 Bendera Wales GK Danny Ward

Pemain tim utama yang dipinjamkan

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
No.
Pos. Nama
11 Bendera Maroko MF Oussama Assaidi (dipinjamkan ke Stoke City sampai 31 Mei 2014)[35]
25 Bendera Spanyol GK Pepe Reina (dipinjamkan ke Napoli sampai 31 Mei 2014)[36]
29 Bendera Italia FW Fabio Borini (dipinjamkan ke Sunderland sampai 31 Mei 2014)[37]

No.
Pos. Nama
30 Bendera Spanyol MF Suso (dipinjamkan ke Almería sampai 31 Mei 2014)[38]
35 Bendera Inggris MF Conor Coady (on loan to Sheffield United until 3 January 2014)[39]
49 Bendera Inggris DF Jack Robinson (dipinjamkan ke Blackpool until 31 Mei 2014)[40]

Staf kepelatihan

  • Manajer: Brendan Rodgers
  • Asisten manajer: Colin Pascoe
  • Pelatih tim utama: Mike Marsh
  • Pelatih kiper: John Achterberg
  • Manajer tim cadangan: Rodolfo Borrell
  • Asisten pencari bakat: Mike McGlynn
  • Kepala kedokteran dan sains olahraga: Peter Brukner
  • Dokter klub: Zaf Iqbal
  • Kepala kebugaran: Darren Burgess
  • Kepala fisioterapi: Phil Coles
  • Pelatih kebugaran rehab: Jordan Milson
  • Konsultan sains olahraga: Barry Drust
  • Fisioterapis senior: Rob Price
  • Fisioterapis senior: Andrew Nealon
  • Fisioterapis: Chris Morgan
  • Fisioterapis tim cadangan: Matt Konopinski
  • Ahli sains olahraga: Alan McCall
  • Terapis olahraga: Ivan Ortega
  • Ahli pijat: Paul Small
  • Ahli ijat: Sylvan Richardson

Manajer

Sampai 20 Juli, 2006. Data hanya berdasarkan kompetisi saja
Nama Dari Hingga Rekor
Main Menang Seri Kalah
Bendera Inggris W. E. Barclay & Bendera Republik Irlandia John McKenna Agustus 1892 Juli 1896 101 58 17 26
Bendera Skotlandia Tom Watson Agustus 1896 Mei 1915 740 327 141 272
Bendera Inggris David Ashworth Desember 1920 Februari 1923 58 25 24 9
Bendera Skotlandia Matt McQueen Februari 1923 Februari 1928 229 94 61 74
Bendera Inggris George Patterson Februari 1928 Mei 1936 370 139 86 145
Bendera Inggris George Kay Mei 1936 Februari 1951 359 143 93 123
Bendera Inggris Don Welsh Maret 1951 Mei 1956 234 82 60 92
Bendera Inggris Phil Taylor Mei 1956 November 1959 153 77 32 44
Bendera Skotlandia Bill Shankly Desember 1959 Juli 1974 753 393 185 175
Bendera Inggris Bob Paisley Juli 1974 Mei 1983 490 275 124 91
Bendera Inggris Joe Fagan Mei 1983 Mei 1985 122 65 34 23
Bendera Skotlandia Kenny Dalglish Mei 1985 Februari 1991 297 180 76 41
Bendera Inggris Ronnie Moran Februari 1991 April 1991 10 4 1 5
Bendera Skotlandia Graeme Souness April 1991 Januari 1994 157 65 47 45
Bendera Inggris Roy Evans Januari 1994 Juli 1998 226 116 57 53
Bendera Inggris Roy Evans & Bendera Perancis Gérard Houllier Juli 1998 November 1998 18 7 6 5
Bendera Perancis Gérard Houllier November 1998 Mai 2004 306 157 75 74
Bendera Spanyol Rafael Benitez Juni 2004 3 Juni 2010 123 70 23 30
Bendera Inggris Roy Hodgson 3 Juni 2010 8 Januari 2011



Bendera Skotlandia Kenny Dalglish 8 Januari 2011 16 Mei 2012



Bendera Skotlandia Brendan Rodgers 31 Mei 2012 sekarang



Prestasi

Total Liverpool telah mengoleksi 18 tropi Liga Utama Inggris. Selama 16 tahun Premiere League bergulir, Liverpool belum pernah memenangkan title tersebut sekalipun. Liverpool memegang rekor 7 tropi juara Piala Liga, selisish 2 dengan Aston Villa. Liverpool pernah meraih gelar ganda dengan menjuarai Liga dan Piala FA pada tahun 1986. Mereka juga pernah memenangkan tiga trophi dalam satu musim sebanyak 2 kali – yang pertama mereka memenangkan Liga Inggris, Piala Liga dan Piala Champion pada tahun 1984, serta pada tahun 2001 dengan meraih Piala FA, Piala Liga dan Piala UEFA. Liverpool juga pernah meraih gelar ganda eropa dengan menjuarai Liga dan Piala Champion eropa pada tahun 1977.[41]
Hingga saat ini Liverpool telah mengkoleksi 5 tropi Liga Champion yang merupakan terbanyak di Inggris serta ketiga terbanyak di dari seluruh klub dibawah Real Madrid dan AC Milan. Dengan meraih tropi Liga Champion ke 5 pada tahun 2005, Liverpool berhak mengenakan UEFA Badge of Honour[42], serta berhak memiliki tropi secara permanen.[43] Liverpool pernah menerima anugerah dari World Soccer Magazine sebagai Team of the Year pada 2001 dan 2005[44] serta gelar BBC Sports Personality of the Year Team pada tahun 1977, 1986 dan 2001.[45]
Liverpool adalah klub terbaik Inggris abad ke-20[46] menurut International Federation of Football History and Statistics (IFFHS). Untuk tingkat dunia, Liverpool berapa di urutan ke-7 sebegai klub terbaik abad ke-21 setelah Barcelona, Manchester United, Arsenal, Real Madrid, Inter Milan, dan Bayern München.[47]
  • Liga Utama Inggris[ket 1] : Juara (18)[ket 2]
    • 1900–01, 1905–06, 1921–22, 1922–23, 1946–47, 1963–64, 1965–66, 1972–73, 1975–76, 1976–77, 1978–79, 1979–80, 1981–82, 1982–83, 1983–84, 1985–86, 1987–88, 1989–90
  • Liga Championship Inggris[ket 3] : Juara (4)
    • 1893–94, 1895–96, 1904–05, 1961–62
  • Liga Lancashire : Juara (1)
    • 1892–93
  • Liga Champions UEFA : Juara (5)[ket 4]
  • Liga Eropa UEFA[ket 5] : Juara (3)
    • 1972–73, 1975–76, 2000–01
  • Piala FA : Juara (7)
    • 1964–65, 1973–74, 1985–86, 1988–89, 1991–92, 2000–2001, 2005–2006
  • Piala Remaja FA : Juara (2)
    • 1995–96, 2006–07
  • Piala Liga : Juara (8)[ket 4]
    • 1980–81, 1981–82, 1982–83, 1983–84, 1994–95, 2000–01, 2002–03, 2011–12
  • Charity Shield : Juara (15)
  • Piala Super Eropa : Juara (3)
    • 1977, 2001, 2005
  • Piala Super : Juara (1)
    • 1985–86
  • Divisi Satu untuk Cadangan : Juara (16)
    • 1956–57, 1968–69, 1969–70, 1970–71, 1972–73, 1973–74, 1974–75, 1975–76, 1976–77, 1978–79, 1980–81, 1981–82, 1983–84, 1984–85, 1989–90, 1999–2000

Gelar double dan treble

Liverpool berhasil mendapatkan treble winner, Liverpool mendapatkan dua gelar domestik (Piala Liga dan Piala FA) dan Piala UEFA pada musim 2000-01. Meskipun begitu, memenangi treble bukanlah hal yang baru bagi mereka. Pada 1984 mereka menjadi juara Piala Champions, Piala Liga dan Liga Inggris.
Double/Treble[ket 7] Jml Tahun
Piala Liga dan Piala FA 1 1985–86
Juara Liga dan Piala Liga 2 1981–82, 1982–83
Double Eropa (Liga & Liga Champions UEFA) 1 1976–77
Liga dan Liga Eropa UEFA 2 1972–73, 1975–76
Piala Liga dan Liga Champions UEFA 1 1980–81
Liga, Piala Liga dan Liga Champions UEFA 1 1983–84
Piala FA, Piala Liga and Liga Eropa UEFA 1 2000–01
Untuk kompetisi pendek seperti Charity/Community Shield dan Piala Super UEFA pada umumnya tidak dianggap dalam memberikan kontribusi terhadap Double atau Treble.[48]

Catatan kaki

  1. ^ Sebelum musim 1992-93 bernama Divisi Pertama
  2. ^ Terbanyak ke-2 dibandingkan klub Inggris lainnya
  3. ^ Sebelum musim 1992-93 bernama Divisi Kedua
  4. ^ a b Terbanyak dibandingkan klub Inggris lainnya
  5. ^ Sebelum tahun 2009 bernama Piala UEFA
  6. ^ a b c d e f Gelar dibagi bersama
  7. ^ Kemenangan double dalam hubungannya sebagai treble seperti Piala FA dan Piala Liga pada tahun 2001, dianggap sebagai treble.

Rujukan

  1. ^ "Liverpool Football Club". Premier League. Diakses 21 September 2012.
  2. ^ "European Champions' Cup". Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation. 31 May 2012. Diakses 21 September 2012.
  3. ^ "List of Winners UEFA Cup". Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation. 31 May 2012. Diakses 21 September 2012.
  4. ^ "List of Winners European Super Cup". Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation. 31 May 2012. Diakses 21 September 2012.
  5. ^ "Liverpool Football Club is formed". Liverpool F.C. Diakses 21 September 2012.
  6. ^ "The Encylopedia of British Football-Liverpool 1891-1918". Spartacus Educational. Diakses 21 September 2012.
  7. ^ "Liverpool Football Club is formed". Liverpool F.C. Diakses 11 August 2010.
  8. ^ Graham, Matthew (1985). Liverpool. Hamlyn Publishing Group Ltd. hlm. 14. ISBN 0-600-50254-6.
  9. ^ Graham, Matthew (1985). Liverpool. Hamlyn Publishing Group Ltd. hlm. 16-18. ISBN 0-600-50254-6.
  10. ^ Graham, Matthew (1985). Liverpool. Hamlyn Publishing Group Ltd. hlm. 20. ISBN 0-600-50254-6.
  11. ^ Kelly (1988). You'll Never Walk Alone. hlm. 50–51.
  12. ^ Kelly (1988). You'll Never Walk Alone. hlm. 57.
  13. ^ Kelly (1999). The Boot Room Boys: Inside the Anfield Boot Room. hlm. 86.
  14. ^ Kelly (1988). You'll Never Walk Alone. hlm. 157.
  15. ^ Kelly (1988). You'll Never Walk Alone. hlm. 158.
  16. ^ Cox, Richard (2002). Encyclopedia of British football. hlm. 90.
  17. ^ Kelly (1988). You'll Never Walk Alone. hlm. 172.
  18. ^ "On This Day – 15 April 1989: Soccer fans crushed at Hillsborough". BBC. 15 April 1989. Diakses 24 September 2012.
  19. ^ Pithers, Malcolm (22 December 1993). "Hillsborough victim died 'accidentally': Coroner says withdrawal of treatment not to blame". The Independent. Diakses 24 September 2012.
  20. ^ "A hard lesson to learn". BBC. 15 April 1999. Diakses 24 September 2012.
  21. ^ Liversedge (1991). Liverpool:The Official Centenary History. hlm. 104–105.
  22. ^ "Houllier acclaims Euro triumph". BBC Sport. 16 May 2001. Diakses 24 September 2012.
  23. ^ "AC Milan 3–3 Liverpool (aet)". BBC Sport. 25 May 2005. Diakses 24 September 2012.
  24. ^ "Liverpool 3–3 West Ham (aet)". BBC Sport. 13 May 2006. Diakses 24 September 2012.
  25. ^ "Rafael Benitez leaves Liverpool: club statement". The Daily Telegraph. 3 June 2010. Diakses 24 September 2012.
  26. ^ "Liverpool appoint Hodgson". Liverpool F.C. 1 July 2010. Diakses 24 September 2012.
  27. ^ "US pair agree Liverpool takeover". BBC Sport. 6 February 2007. Diakses 24 September 2012.
  28. ^ Gibson, Owen (15 October 2010). "Liverpool FC finally has a new owner after 'win on penalties'". The Guardian. Diakses 24 September 2012.
  29. ^ "Roy Hodgson exits and Kenny Dalglish takes over". BBC Sport. 8 January 2011. Diakses 24 September 2012.
  30. ^ Bensch, Bob; Panja, Tariq (16 May 2012). "Liverpool Fires Dalglish After Worst League Finish in 18 Years". Bloomberg.
  31. ^ Mike Ingham (16 May 2012). "Kenny Dalglish sacked as Liverpool manager". BBC. Diakses 24 September 2012.
  32. ^ "Liverpool manager Brendan Rodgers to 'fight for his life'". BBC. 1 June 2012. Diakses 10 June 2012.
  33. ^ "Hillsborough". Liverpool F.C. Diakses 24 September 2012.
  34. ^ "First Team". Liverpool F.C. Diakses 31 August 2010.
  35. ^ "Assaidi joins Stoke on loan". liverpoolfc.tv. 27 Agustus 2013. Diakses 27 Agustus 2013.
  36. ^ "Reds confirm Pepe Reina loan move". liverpoolfc.tv. 29 July 2013. Diakses 29 July 2013.
  37. ^ "Borini seals loan switch to Sunderland". liverpoolfc.tv. 2 September 2013. Diakses 2 September 2013.
  38. ^ "Suso loaned to Spanish outfit". liverpoolfc.tv. 12 Juli 2013. Diakses 13 Juli 2013.
  39. ^ "Coady joins Blades for six months". liverpoolfc.tv. 22 July 2013. Diakses 22 July 2013.
  40. ^ "Robinson joins Blackpool on loan". liverpoolfc.tv. 1 Agustus 2013. Diakses 1 Agustus 2013.
  41. ^ "Honours". Liverpool F.C. Diakses 24 September 2014.
  42. ^ "Regulations of the UEFA Champions League 2008/09, Chapter XI, Article 19 – "UEFA Kit Resolutions", paragraph 14, page 29". uefa.com. Union of European Football Associations. August 2009. Diakses 24 September 2012.
  43. ^ Keogh, Frank (26 May 2005). "Why it was the greatest cup final". BBC. Diakses 24 September 2012.
  44. ^ José Luis Pierrend (6 March 2012). ""World Soccer" Awards". Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation. Diakses 24 September 2012.
  45. ^ "Sports Personality Of The Year: team winners". BBC Sports. Diakses 24 September 2012.
  46. ^ Hodgson, Guy (17 December 1999). "How consistency and caution made Arsenal England's greatest team of the 20th century". The Independent. Diakses 24 September 2012.
  47. ^ "The World‘s Club of the 21st Century". International Federation of Football History & Statistics (IFFHS). Diakses 24 September 2012.
  48. ^ Rice, Simon (20 May 2010). "Treble treble: The teams that won the treble". The Independent (London). Diakses 24 September 2012.

Bibliografi

  • Cox, Richard; Dave Russell, Wray Vamplew (2002). Encyclopedia of British football. Routledge. ISBN 0-7146-5249-0.
  • Crilly, Peter (2007). Tops of the Kops: The Complete Guide to Liverpool's Kits. Trinity Mirror Sport Media. ISBN 978-1-905266-22-7.
  • Graham, Matthew (1985). Liverpool. Hamlyn Publishing Group Ltd. ISBN 0-600-50254-6.
  • Kelly, Stephen F. (1999). The Boot Room Boys: Inside the Anfield Boot Room. HarperCollins. ISBN 0-00-218907-0.
  • Kelly, Stephen F. (1988). You'll Never Walk Alone. Queen Anne Press. ISBN 0-356-19594-5.
  • Liversedge, Stan (1991). Liverpool:The Official Centenary History. Hamlyn Publishing Group Ltd. ISBN 0-600-57308-7.
  • Pead, Brian (1986). Liverpool A Complete Record. Breedon Books. ISBN 0-907969-15-1.

Lihat pula

Pranala luar

Postingan Lama Beranda