Rabu, 25 September 2013

FAKTOR PENGARUH INTEGRASI (SOSIOLOGI KELAS XI)


Ada beberapa kekuatan yang relevan dan fungsional dalam integrasi sosial, yaitu homogenitas kelompok, besar kecilnya kelompok, perpindahan fisik, serta efektivitas dan efisiensi komunikasi.

1) Dilihat dari homogenitas kelompok, semakin kecil tingkat kemajemukan suatu masyarakat, maka semakin mudah tercapai integrasi sosial.
2) Menurut besar kecilnya kelompok, semakin kecil kelompok dapat berarti semakin kecil tingkat kemajemukannya, dan biasanya dalam kelompok kecil itu akan diwarnai hubungan-hubungan yang bersifat primer, sehingga dicapai komunikasi yang sangat efektif yang akan berpengaruh pada terciptanya integrasi sosial.
3) Perpindahan fisik, baik datang ke atau keluar dari suatu
kelompok akan memengaruhi tingkat kemajemukan
masyarakat atau kelompok.
4) Efektivitas dan efisiensi komunikasi, yaitu Pengertian bersama yang merupakan dasar terbentuknya integrasi masyarakat, di mana hanya akan dapat tercapai apabila komunikasi dalam masyarakat itu berlangsung secara efektif.

Apabila kekuatan-kekuatan yang relevan dan fungsional tersebut di atas melemah, yang terjadi adalah disorganisasi sosial atau ketidakteraturan dalam berbagai segi kehidupan bermasyarakat. Apabila dibiarkan, yang terjadi kemudian adalah berbagai macam konflik. Apabila konflik yang terjadi tidak terkendali akan mengakibatkan gerakan sentrifugal yang mengancam integrasi. Puncak dari sebuah konflik adalah disintegrasi dalam kelompok masyarakat.

Selain dikatakan adanya faktor yang dapat mendukung terjadinya integrasi sosial, terdapat pula hal-hal yang dapat menghambat proses integrasi sosial. Tentu saja, bentukbentuk perilakunya bersifat negatif dan disosiatif bukan? Untuk itu mari kita simak bersama pemaparan beberapa faktor berikut ini.



1) Primordialisme

Primordialisme diartikan sebagai suatu pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang teguh kepada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu (dibawa sejak lahir), seperti suku bangsa, ras, agama, ataupun asal usul kedaerahan, oleh seseorang dalam kelompoknya yang kemudian meluas dan berkembang.

Dalam masyarakat primordialisme selalu ada dan terjadi, misalnya pada suku bangsa, golongan agama, dan partai. Terjadinya primordialisme ini antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

a) Adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam suatu kelompok atau perkumpulan sosial.
b) Adanya suatu sikap untuk mempertahankan keutuhan suatu kelompok atau kesatuan sosial terhadap ancaman dari luar.
c) Adanya nilai-nilai yang berkaitan dengan system keyakinan, misalnya nilai-nilai keagamaan, pandangan hidup, dan sebagainya.

Primordialisme yang melekat sebagai identitas suatu golongan atau pengelompokan sosial memang merupakan faktor penting yang dapat memperkuat ikatan golongan atau kelompok yang bersangkutan ketika ada ancaman dari luar kelompok, tetapi sekaligus ia akan membangkitkan prasangka (prejudice) dan permusuhan terhadap kelompok atau golongan yang berada di luar kelompok atau golongannya. Hal ini jelas akan memperbesar jurang saling pengertian dan kerja sama antarkelompok atau antargolongan di dalam masyarakat yang lebih luas. Jika keadaannya demikian, pada giliran berikutnya yang terjadi adalah terganggunya integrasi dan menguatnya potensi konflik antargolongan.

Misalnya disebagian masyarakat Amerika Serikat memiliki pandangan miring terhadap warga kulit putih. Pandangan ini diperkuat karena mayoritas warga Amerika Serikat berkulit putih. Efeknya aktivitas warga kulit hitam dibatasi, termasuk kesempatan untuk terjun ke bidang politik, ekonomi, dan sebagainya.



2) Etnosentrisme (Fanatisme Suku Bangsa)

Etnosentrisme merupakan suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya. Karena yang dipakai adalah ukuran-ukuran yang berlaku di dalam masyarakatnya, maka orang akan selalu menganggap kebudayaannya mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada kebudayaan masyarakat lain.

Misalnya Ali sebagai orang Jawa yang selalu menganggap suku bangsanya sendiri yang paling baik. Ketika ia harus memimpin sebuah organisasi yang anggotanya tidak semua orang yang berasal dari suku Jawa, Ali mulai menunjukkan sikap etnosentrismenya. Ali menunjuk semua pengurus intinya orang-orang yang berasal dari suku Jawa dan suku lain hanyalah sebagai anggota.

Etnosentrisme tidak rasional, tetapi emosional dan sentimental. Pertimbangan-pertimbangan yang digunakan adalah perasaan, bukan pemikiran yang jernih yang menggunakan akal sehat. Sebagai contohnya adalah amukan massa suporter tim sepak bola yang kalah bertanding. Massa suporter itu tidak mau tahu apa yang menyebabkan tim yang didukungnya kalah oleh tim lawannya. Bisa jadi tim itu kalah karena memang kualitas permainannya di bawah tim lawan. Namun adanya fanatisme kedaerahan telah menghilangkan pertimbangan- pertimbangan rasional, sehingga yang terjadi justru tindakan-tindakan emosional yang mengarah kepada kerusuhan dan pengrusakan.

Namun demikian, etnosentrisme juga memiliki segi-segi positif antara lain sebagai berikut.
a) Menjaga keutuhan dan kestabilan budaya.
b) Mempertinggi semangat patriotisme dan kesetiaan kepada bangsa.
c) Memperteguh rasa cinta terhadap kebudayaan suatu bangsa.



3) Diskriminasi

Diskriminasi merupakan pembedaan secara sengaja terutama dalam lapangan politik terhadap golongangolongan yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan suatu golongan tertentu. Dalam diskri-minasi, golongan tertentu diperlakukan berbeda dengan golongan-golongan
lain. Pembedaan itu dapat didasarkan pada ras, suku bangsa, agama, serta mayoritas dan minoritas dalam masyarakat. Termasuk juga perlakuan terhadap gender (jenis kelamin), kondisi fisik (kecacatan) yang berbeda, dan tindakan yang cenderung tidak memerhatikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan bentuk diskriminasi yang sering tidak disadari oleh masyarakat sendiri. Namun, pada dasarnya hal itu juga merupakan bentuk diskriminasi. Perlakuan yang diskriminatif terhadap suatu golongan tertentu akan sangat mengganggu dan menghambat jalannya integrasi sosial.



4) Politik Aliran

Politik aliran menurut Clifford Geertz merupakan keadaan perpolitikan, di mana partai-partai politik yang ada dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa, baik formal maupun informal yang mengikutinya. Partai tersebut mewakili sebuah ideologi yang diperjuangkan.

Dalam memperjuangkan ideologi tersebut, sebuah partai politik di samping memiliki organisasi massa yang bernaung di bawahnya, juga memiliki surat kabar ataumajalah sebagai semacam corong perjuangannya. Sebagai contohnya Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai ormas-ormas, seperti Pemuda Marhaens, GMNI, ormas petani, di samping memiliki surat kabar yang bernama Suluh Marhaens.

Berkembangnya politik aliran dalam suatu masyarakat majemuk dapat mengakibatkan jurang perbedaan antara kelompok-kelompok aliran yang berbeda itu. Kenyataan ini menjadi potensi terjadinya konflik antara kelompokkelompok tersebut jika tidak diolah dengan baik.

Apabila di dalam masyarakat telah timbul gejala-gejala sosial seperti di atas, maka di dalamnya tidak akan terwujud pola kehidupan yang serasi. Sebab pola kehidupan masyarakat yang serasi dalam arti terwujudnya ketertiban, keamanan, dan sebagainya, hanya dapat dicapai apabila segenap unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat yang meskipun berbeda-beda dapat saling menyesuaikan satu dengan yang lain sehingg  terintegrasikan dengan kukuh.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar