Rabu, 25 September 2013

VALIDITAS (SOSIOLOGI KELAS XII)


Tujuan penelitian adalah mencari kebenaran. Dalam usaha itu soal validitas merupakan aspek yang sangat penting. Kebenaran hanya dapat diperoleh dengan instrumen yang valid. Maka dikatakan, validitas merupakan esensi kebenaran hasil penelitian. Validitas dipandang sebagai konsep yang paling penting dalam penelitian. Dalam tiap penelitian selalu dipertanyakan validitas alat yang digunakan. Oleh karena itu membuat instrumen yang valid harus mendapat perhatian setiap peneliti.
Suatu alat pengukur dikatakan valid, jika alat itu mengukur apa yang harus diukur oleh alat tersebut. Misalnya mengukur berat suatu benda dengan menggunakan timbangan. Beberapa jenis validitas yang ada dalam suatu penelitian adalah sebagai berikut.
a. Validitas Isi
Maksud jenis validitas isi ini adalah bahwa isi atau bahan yang diuji relevan dengan kemampuan, pengetahuan, pelajaran, pengalaman, atau latar belakang orang yang diuji. Jika misalnya kita uji bahan yang ada di luar yang dipelajari, maka tes itu tidak mempunyai validitas isi. Misalnya menguji kemampuan bahasa Inggris, maka yang perlu dites adalah structure, grammar, vocabulary, reading, writing, listening, bahkan sampai dilakukan tes conversation dan pronouncation.
Jadi, validitas isi diperoleh dengan mengadakan sampling yang baik, yaitu memilih item-item yang representatif dari keseluruhan bahan yang berkenaan dengan hal yang kita selidiki. Kesulitan yang biasanya dihadapi berkenaan dengan validitas isi adalah bahwasannya pilihan item yang digunakan biasanya bersifat subjektif, yaitu berdasarkan logika dari peneliti itu sendiri. Untuk itu perlu ada kesesuaian tentang keseluruhan bahan dengan pilihan-pilihan item yang representatif.
b. Validitas Prediktif
Maksud jenis validitas ini adalah adanya kesesuaian antara ramalan (prediksi) tentang perilaku seseorang dengan perilaku yang nyata. Diharapkan suatu tes mempunyai nilai prediktif yang tinggi, artinya bahwa apa yang diprediksikan oleh tes tentang perilaku seseorang memang terbukti dilakukan oleh seseorang tersebut.
Alat pengukur yang dibuat oleh peneliti seringkali dimaksudkan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam penelitian sosial, cukup sering terjadi para peneliti bermaksud untuk memprediksi apa yang akan terjadi nantinya.
c. Validitas Konstruk
Ada sifat-sifat yang tidak dapat langsung tampak perwujudannya dalam kelakuan manusia, misalnya kepribadian seseorang. Kepribadian terdiri dari berbagai komponen. Dengan tes kepribadian kita ingin mengetahui aspek-aspek manakah yang sebenarnya kita ukur. Dengan teknik statistik yang disebut analisis faktor dapat diselidiki berbagai komponen kepribadian tersebut, sehingga tes itu dapat disusun berdasarkan komponen itu. Tes yang demikian ini dikatakan mempunyai validitas konstruk.
Validitas konstruk digunakan apabila kita menyangsikan apakah gejala yang dites benar-benar hanya mengandung satu dimensi. Apabila ternyata gejala itu mengandung lebih dari satu dimensi, maka validitas tes itu diragukan. Keuntungan validitas konstruk ini adalah bahwa kita mengetahui komponen-komponen sikap atau sifat yang diukur dengan tes itu.
d. Validitas Eksternal
Dalam dunia penelitian sosial sudah cukup banyak alat pengukur yang diciptakan oleh para peneliti untuk mengukur gejala sosial, dan alat pengukur tersebut sudah memiliki validitas. Validitas eksternal adalah jenis validitas yang diperoleh dengan cara mengorelasikan alat pengukur baru dengan tolok ukur eksternal yang berupa alat ukur yang sudah valid.
Misalnya untuk mengukur kualitas penduduk dapat dikorelasikan antara angka harapan hidup dengan angka kematian bayi. Apabila kedua angka tersebut berkorelasi secara signifikan, maka kedua jenis pengukuran itu telah memiliki validitas eksternal.
e. Validitas Budaya
Validitas budaya atau lebih tepatnya validitas antarbudaya sangat penting bagi penelitian yang dilakukan di negara yang suku bangsanya sangat bervariasi. Selain itu penelitian yang dilakukan sekaligus di beberapa negara dengan alat ukur yang sama, juga akan menghadapi problem validitas budaya. Suatu alat pengukur yang sudah valid untuk penelitian di suatu negara, belum tentu akan valid jika digunakan di negara lain yang memiliki budaya yang berbeda.
f. Validitas Rupa
Jenis validitas ini berbeda dengan jenis-jenis validitas yang telah diungkapkan di atas. Validitas rupa tidak menunjukkan apakah alat pengukur mengukur apa yang ingin diukur, namun hanya menunjukkan bahwa dari segi rupanya suatu alat ukur tampaknya mengukur apa yang ingin diukur.
Validitas ini sangat penting dalam pengukuran kemampuan individu, seperti pengukuran kecerdasan, bakat, dan keterampilan. Hal ini disebabkan dalam pengukuran aspek kemampuan seperti itu faktor rupa alat ukur akan menentukan sejauhmana minat orang di dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan dalam alat ukur.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar