Jumat, 20 September 2013

Kita KOPITES bukan LIVERPUDLIAN!!




Ayo dibaca INFO PENTING (baca : copy &
paste) dari
wall grup
BIGREDS IOLSC Regional Bandung. Berawal
dari
postingan
teh Dhini Renata yang mengoreksi
kesalahan
penggunaan
istilah Liverpudlian untuk menyebut
pendukung
LFC, diskusi
kemudian berkembang menjadi suatu
pembahasan
yang
menyeluruh tentang kata Liverpudlian itu
sendiri.
Albert
Shadrach,
salah seorang member BIGREDS pun urun
informasi yang ke
mudian menjadi ide awal dibuatnya
dokumen ini.
Diharapkan
dokumen ini dapat memberikan
pengetahuan yang
baik bagi
anggota grup ini.Berikut adalah kutipan
informasi
dari bung
Albert dengan sedikit penyesuaian
alinea :LIVERPUDLIAN
ADALAH BERARTI WARGA KOTA
LIVERPOOL. Tidak
ada
satupun quotes/ merchandises/chants/
yells resmi
LFC yg
menyebutkan kata "Liverpudlian" yang
merujuk
kepada arti
→ supporter. Dan supporter LFC disebut
KOPITE
(dibaca:
Kopayt), sedangkan bentuk jamaknya
adalah
KOPITES
(dibaca: Kopayts). Lantas dari manakah
semua
kesalah-
kaprahan ini berasal?
Dalam chant "Poor Scouser Tommy", ada
lyrics:
"Oh, I am a
Liverpudlian. And I come from The Spion
Kop".
Inilah awal
mula kesalah-kaprahan tersebut di
INDONESIA.
Apa? Di Indonesia?
Ya, benar, hanya di Indonesia saja kita
mendengar
pendukung LFC menyebut diri
Liverpudlian. Di
negara lain tak
ada yang salah kaprah, mereka menyebut
diri
mereka
KOPITES. Adapun makna dari lyrics tadi: si
Tommy
ini adalah
prajurit Inggris yang dikirim ke Libya saat
Perang
Dunia II.
Dan disetiap Dog Tag akan tertera dari
Divisi
manakah dia,
dan dicantumkanlah bahwa dia berasal dari
divisi
di kota
Liverpool. Itulah sebabnya sebelum tewas,
dia
berkata
bahwa dia adalah seorang Liverpudlian
(warga kota
Liverpool). Namun, kecintaannya terhadap
LFC
membuat
Tommy yang sedang sekarat pun tetap
bangga
mengaku
sebagai seorang KOPITE (supporter LFC),
dengan
berkata
bahwa dia tak hanya sebagai warga kota
Liverpool
semata,
melainkan dia berasal dari The Spion Kop
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion
Anfield
yang
paling bawel ngchants pada saat itu).
Dengan keterbatasan informasi di
Indonesia,
terutama di era
1970 - awal 1980 an dimana kaum muda
hanya
mengenal
sepakbola luar negeri melalui Dunia Dalam
Berita,
dan
pertandingan final sepakbola hanya sesekali
ditayangkan
secara langsung oleh TVRI di pertengahan
1980 an,
ditambah
dengan lebih mudahnya menghafal kata
Liverpudlian (karena
memiliki susunan huruf yang mendekati
Liverpool)
dibandingkan "Kopites", dan ditambah
dengan
tingkat
kesalah-kaprahan yang tinggi didalam
penggunaan
kata di
masyarakat Indonesia, membuat
penyebaran
kesalahan
makna "Liverpudlian" ini menjadi semakin
cepat,
dan malah
menggeser Kopites sebagai istilah yang
benar.
Apalagi
kemudian diperparah pula dengan watak
kita
semua yang
"udah salah, ngotot pula". Dan juga watak
"membiarkan
kesalahan berlanjut karena gak mau repot",
dan
juga watak
"berkelakar-bercanda diseputar
kesalahan".
Akhirnya pada saat pertengahan 1990 an
dimana
persaingan
TV Swasta mulai merebak, mengakhiri
kejayaan
tunggal RCTI
dengan Decoder-nya, maka muncullah ide
untuk
menayangkan secara langsung
pertandingan sepak
bola Liga
Inggris oleh salah satu Direktur Utama TV
saat itu.
Dan si
presenter pertandingan di TV Indonesia
kerap
menyebut kata
"Liverpudlian" saat dia berceloteh
mengenai
supporter LFC.
Pengaruh media sangatlah luas, dan
akhirnya
mencuci otak
para anak muda yang rata2 SMA atau baru
masuk
kuliah saat
era pertengahan 1990 an itu. Mereka2 ini
kerap
berkumpul
sepulang kuliah dan akhirnya semakin
meluas pula
kesalahan
penggunaan kata "Liverpudlian" ini. Saat
bertemu
orang lain
yang menggunakan t-shirt/ atribut LFC,
akan
dengan ramah
disapa: "oh, kamu Liverpudlian juga yah?"
yang
semakin
membuat penggunaan ngaco ini berlanjut.
Hingga
puncaknya
adalah Twitter dimasa kini.
Lantas, dari manakah istilah KOPITES itu
berasal?
Ya, tepat. Rujukan kata itu bersumber dari
THE
KOP, atau
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion
Anfield).
Awalnya,
penggunaan istilah Kopites ini disematkan
kepada
orang2
keturunan Scandinavia, terutama buruh-
buruh
kapal
Norwegia, yang banyak berlabuh di
Liverpool. Mereka ini lebih kasar,
pemabuk, namun lebih "garis keras"
dalam
mendukung tim sepakbola (saat itu Everton
lebih
diminati
oleh Liverpudlian -- warga kota Liverpool --
dibandingkan tim
sekota yg baru muncul, LFC). Sedangkan
penggunaan istilah
The Kop ini bersumber dari penghargaan
terhadap
prajurit
korban Second Boer War, dimana banyak
prajurit
Inggris
yang tewas berasal dari kota Liverpool.
Nah, pada perkembangannya, LFC tampak
lebih
menarik
untuk disimak, sehingga para Liverpudlian
(warga
kota
Liverpool) mulai menyematkan istilah
KOPITES
kedalam diri
mereka, karena mereka turut melebur
kedalam
suasana
mendukung LFC. Dan seiring dengan
perjalanan
waktu,
sejarah demi sejarah ditorehkan oleh LFC,
akhirnya
muncullah sebutan bagi para supporter LFC
yang
non -
Liverpudlian, bukan warga kota Liverpool,
dengan
sebutan
WOOLS.
Julukan ini "sedikit" bernada merendahkan,
dalam
artian:
Wools hanya bisa mendukung lewat TV di
negaranya, tak
hadir disetiap pertandingan kandang di
Anfield,
atau tak
nongkrong rutin di THE ALBERT (Pub
diseberang
The Kop).
Para pendukung LFC (Kopites) notabene
kini
merupakan
Liverpudlian (warga kota) dan tak lagi
buruh kapal
luar
negeri, bahkan sebagian besar merupakan
SCOUSER (sub-
race/ suku bangsa berlogat). Sehingga saat
kejayaan LFC
berimbas ke dunia luas, maka penggunaan
julukan
"Wools"
bagi supporter LFC non warga kota
Liverpool pun
semakin
luas. DAN JIKA KALIAN MASIH NGOTOT
MENGGUNAKAN
ISTILAH "LIVERPUDLIAN" saat kalian nanti
ke
Anfield, maka
bersiaplah untuk diejek oleh beberapa
oknum
Kopites yang
mabuk.
Biasanya mereka langsung mengenali kita
sebagai
tourist
(turis), mereka akan ramah menyapa kita,
dan jika
kalian
memang cinta LFC, maka katakanlah: "I am
a
Liverpool FC
Kopite too, by the way", dan mereka akan
semakin
ramah
dan akrab, menyapamu dengan jawaban:
"Oh, so
you are a
Wool, glad to hear that. It's ring a bell for
sure.
Another pin,
mate?".
Tapi bayangkanlah jika kesalah-kaprahan
penggunaan
"Liverpudlian" ini terjadi, maka mereka
akan
langsung
mengenali logat English kalian yang jelas2
sangat
tidak ber-
scouser, dan mereka (jika mabuk) akan
mengejekmu
meminta kalian mengeluarkan ID Card
(Kartu Tanda
Penduduk) kota Liverpool.
Kesalahkaprahan penggunaan kata didalam
bahasa
Indonesia, dan serapan bahasa asing
kedalam
Bahasa
Indonesia sangatlah mudah ditolerir. Dan
sebagai
sesama
KOPITES, tentunya para Liverpudlian
(warga kota
Liverpool) --
jika bukan oknum yang sedang mabuk --
akan
melayani kita
dengan ramah, apalagi status kita sebagai
tourist,
sebagai
Wools (pendukung LFC yg berasal dari luar
kota
Liverpool,
bahkan luar negeri).
Akhirnya, demi untuk menjalin silaturahmi,
JIKA
KAMU
BERTANYA seperti ini: "Saya pendukung
LFC, tapi
saya bukan
warga kota Liverpool. Apakah saya boleh
menyebut
diri saya
sebagai seorang Liverpudlian?", maka
karena
keramahan
mereka, para orang kota Liverpool ini akan
menjawab: "Oh,
tentu saja boleh" untuk menghargai
perkenalan
kalian. Inilah
yang kemudian menyebabkan EVOLUSI
BAHASA.
Penggemar
LFC di Indonesia sangatlah banyak, dan
hampir
semuanya
menyebut mereka sebagai Liverpudlian,
dan bukan
Kopites.
Please jangan menyebut kalian sebagai
Wools,
secara itu
adalah "ejekan tidak langsung". Dan
ditambah pula
dengan
adanya istilah EVERTONIAN bagi fans
Everton FC
dikalangan
para Liverpudlian (warga kota Liverpool).
Akhirnya,
penyematan label "Liverpudlian" menjadi
sangat
maklum
dikalangan para tourist. Dalam bahasa
sinisnya,
para Kopites
akan "yaaaaaaaa, yaaaaaaaa, whatever" jika
kalian
mengaku2
sebagai Liverpudlian (padahal maksudnya
adalah
sebagai
Kopites).
Saking dimaklum-nya, akhirnya menjadi
semakin
maklum,
kesalah-kaprahan semakin berlanjut, dan
bahkan
"dicantumkan" oleh seseorang (non
Scouser)
kedalam kamus
tak resmi LFC bahwa → Liverpudlian adalah
warga
kota
Liverpool, namun karena ada Evertonian
(pendukung EFC),
maka Liverpudlian juga dapat bermakna
sebagai
fans
(penggemar) LFC. Ingat, fans ...
PENGGEMAR, dan
bukan
seperti KOPITES yang bermakna sebagai
SUPPORTER/
pendukung.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka kita
semua
semakin
cerdas, sadar, dan mengerti. Ini bukan
mengenai
"setuju
atau tidak setuju". Ini bukan mengenai
"toleransi
atau alibi
tidak diterima". Ini mutlak mengenai
kebiasaan
salah kaprah
didalam penggunaan bahasa asing.
Ingat, budaya sepakbola di Inggris
JAUUUUUHH
melebihi
budaya sepakbola di negara lain. Tak perlu
disangkal, karena
semua orang sudah tau siapakah bangsa
pendiri
olah raga
yang satu ini.
KESALAH-KAPRAHAN PENGGUNAAN
BAHASA AKAN
TERUS
BERLANJUT DAN MENYEBAR, tinggal dari
diri kalian,
apakah
kalian ingin semakin cerdas, atau kalian
membandel dan
ngotot dan tidak mau semakin
mencerahkan
pengetahuan.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Poskan Komentar